Kita Memang Punya Kesamaan dengan Mesin, Tapi Bukan Berarti Kita Adalah Mesin
Personal branding, independent woman, value—semua istilah itu muncul ketika media sosial semakin merambah ke segala aspek kehidupan manusia, terutama dalam bidang karir. Seperti yang banyak kita tahu, akun media sosial bahkan menjadi bahan pertimbangan para HRD untuk menyeleksi calon-calon karyawan mereka. Kini, portofolio dalam bentuk kertas telah beralih menjadi sebuah etalase yang lebih variatif, misal: lewat video, foto, dan fitur-fitur lainnya yang lebih merapikan arsip atau dokumentasi jejak prestasi kita, seperti salah satu penerapannya: Instagram.
Orang-orang semakin berlomba-lomba untuk mempercantik akun Instagram mereka dengan pelbagai prestasi, pelbagai pencapaian. Konten-konten edukatif dan jedag-jedug ketika mendapatkan suatu prestasi atau juara tersebar di seluruh penjuru algoritma Instagram. Akun yang tidak memiliki citra branding seperti akun yang disetel privat, tidak ada foto profil dan bio, tidak ada postingan atau yang dijuluki akun ‘kosongan’ tidak lagi relevan dengan zaman sekarang, bahkan mendapat hujatan atau kritikan dari warga Instagram. Menurut mereka, sudah saatnya untuk menjadikan diri sendiri sebagai sebuah produk dan memasarkannya lewat Instagram. Persaingan dalam dunia kerja semakin kompetitif dan peluangnya bertambah sempit. Dengan itu, akun ‘kosongan’ yang semula mayoritas sebab dianggap estetik, kini adalah minoritas yang dianggap sok misterius.
Perlahan-lahan, jika tren ini dibiarkan tanpa adanya self-control dan self-awareness, sebuah pencapaian atau juara hanya bertujuan sebagai pelet untuk memancing validasi, bukan esensi dari pencapaian itu sendiri. Orang-orang menginginkan sebuah juara demi mendapat banyak tepukan tangan, padahal mereka tidak tahu bahwa yang terpenting dari juara itu justru adalah kemampuan dan pelajaran yang mereka dapatkan. Fenomena ini dapat menciptakan ekosistem kompetisi yang tidak sehat: di mana yang dicari adalah ‘juara’-nya, bukan pengalamannya. Seolah-olah diri seseorang dapat didefinisikan oleh prestasi mereka, oleh piala-piala mereka, oleh sertifikat-sertifikat mereka.
Tulisan ini saya buat karena saya pernah menemui seseorang yang betul-betul setiap harinya diisi oleh kegiatannya berlomba. Tak hanya sekali, ia bercerita pada saya bahwa setiap kali ia melewatkan satu lomba dengan sengaja, maka akan ada rasa kesedihan dan penyesalan yang datang pada hatinya, lalu mengerubunginya seperti sekawanan lebah. Saya tahu alasannya melewatkan lomba tersebut bukan karena malas, bukan karena sering menunda-nunda. Alasannya cukup masuk akal, masuk di nalar, dan sangat manusiawi: lelah.
Ia berkata pada saya bahwa kadang ia tidak bisa membedakan mana yang ‘lelah’ atau mana yang hanya sekadar ‘menunda-nunda’. Maka dari itu, ketika sebetulnya tubuhnya sudah menyalakan alarm untuk beristirahat, ia sering mematikannya dan lanjut menguras energi tubuhnya sampai ke jaringan kulit paling dalam. Tak heran, jika ia mudah mendapatkan burn out. Setiap hari yang ia lihat adalah orang-orang dengan sejuta piala nangkring di beranda Instagramnya dan melihatnya sebagai sebuah pecutan yang begitu kencang bagi punggungnya untuk terus bekerja, terus meraih prestasi, terus meraih banyak pencapaian. Hal yang ia cari selama ini adalah piala dan sertifikat. Hal yang ia cari selama ini adalah komentar dan likes orang-orang. Hal yang ia cari selama ini adalah value berupa material yang bisa rusak, bisa karatan jika terkena air, atau lecet jika terkena benda-benda tajam. Hal yang ia cari selama ini adalah postingan-postingan prestasi dan akun dengan ribuan followers yang bisa saja hilang karena di-hack atau dianggap spam oleh Instagram.
Lantas apa yang tidak akan hilang?
Sesuatu yang berada di dalam diri kita. Proses ketika meraih prestasi tersebut, pengalamannya, kemampuan yang didapat, dan pembelajaran yang didapat. Sering kali kita mendengar pepatah nikmati prosesnya, bukan hasilnya—namun kita tidak pernah betul-betul memaknainya. Sebab, proseslah yang bertahan dalam kalbu kita, bukan piala atau sertifikat-sertifikat. Pembelajaran yang didapat dan membentuk karakter kita, itulah yang akan bertahan, dan tentunya, memiliki dampak positif dalam jangka panjang. Orang-orang akan lupa dengan prestasi yang kita dapat juara di mana saja kita, sertifikat apa yang kita punya tapi orang-orang tidak akan pernah lupa dengan karakter kita, dengan watak kita, dengan value kita yang diproyeksikan melalui sikap dan tindakan.
Ketika kita berhenti untuk mencari sesuatu yang bukan berupa material atau eksternal, maka kita tidak akan terburu-buru dan merasa tersaingi oleh jalan hidup orang lain. Mungkin, mereka punya sertifikat dan piala yang lebih dari kita, tapi sejatinya semua didefinisikan oleh apa-apa yang menetap dan terus terbentuk di dalam kepala mereka, dalam relung hati mereka, dalam kalbu mereka. Kita tidak akan lagi memaksakan dan mengupayakan segala cara agar juara di mana-mana, tapi kita hanya berproses untuk lebih baik dari sebelumnya dengan tujuan positif seperti: benar-benar ingin belajar, mengambil hikmah, menambah wawasan, atau bahkan membantu orang lain dengan tujuan-tujuan positif tersebut. Bukan sekadar dapat piala atau sertifikat untuk diposting tanpa ada esensi yang nyata dari postingan tersebut kepada karakter kita, kepribadian kita, sifat kita, cara kita berpikir, dan bagaimana kita membantu orang banyak.
Dengan itu, kita tidak lagi memecut diri kita untuk terus berkarya atau menciptakan sesuatu setiap harinya. Sebagai seorang penulis, saya percaya dengan prinsip bahwa sejatinya manusia harus menciptakan sesuatu selain mengonsumsi sesuatu. Karena jika kita tidak menciptakan sesuatu, maka kita hanya akan sebagai manusia yang terus mengonsumsi, melakukan input, tanpa ada output dan hanya menambah beban pada lemari arsip di otak kita. Kita memang seperti mesin: harus melakukan input dan output. Namun, bukan berarti kita harus melakukan output setiap hari dengan memecut diri untuk menciptakan karya-karya baru. Memang, ide itu perihal disiplin. Kebagusan dalam menulis atau berkarya itu perihal konsistensi. Tapi sering kali kita lupa bahwa kita adalah manusia, bukan chatgpt dan sejenisnya. Kita bukanlah mesin yang terus dipaksa untuk menciptakan, menuliskan, dan membuat suatu karya setiap harinya. Kita adalah manusia. Kita juga butuh jeda. Kita juga butuh pause sejenak. Sebagian besar dari orang-orang atau pemula yang ingin produktif terus membikin jadwal to do list sepadat gedung-gedung kota tanpa membikin pula jadwal istirahat mereka. Yang terdapat dalam notes mereka hanyalah: kerja, kerja, dan kerja. Tidak ada satu pun istirahat atau melepas diri sejenak tertulis dalam catatan harian mereka.
Ada orang yang berusaha mati-matian untuk konsisten belajar selama sepuluh jam setiap harinya. Ada orang yang berusaha menulis beberapa belas ribu kata setiap harinya. Dan, ketika orang dengan jenis seperti itu gagal dalam usahanya, mereka akan bertanya pada sekitarnya: bagaimana cara untuk tetap konsisten dan disiplin? Tanpa bertanya terlebih dahulu pada diri mereka sendiri: apakah aku sudah melakukan rencana untuk konsisten dan disiplin dengan sehat?
Satu-satunya cara untuk tetap merasa produktif adalah jangan membandingkan rutinitas harian atau perjalanan hidup kita dengan orang lain. Sebab, itu sama saja membuka lorong tanpa ujung untuk kita lalui. Akan ada selalu yang lebih dari kita, lebih produktif dari kita, lebih rajin dari kita—dan itu sama sekali bukan suatu masalah. Apa yang perlu direpotkan?
Kita hanya perlu merasa produktif dengan melihat ke dalam, bukan melihat ke luar. Dengan itu, kita bisa memahami sejauh mana kita melangkah, sejauh mana kita berenang, dan sejauh mana kita sudah terluka. Karena pada akhirnya, kita akan bersama diri kita sendiri di dalam liang lahat, di dalam kegelapan selama beratus-ratus tahun. Dan, bagaimana bisa bertahan jika tidak memahami atau membangun hubungan yang sehat dengan diri sendiri dalam kesepian, dalam kesunyian?
Sering kali pula banyak orang yang terus melakukan output, sehingga mereka bisa merasakan lelah secara kemampuan berpikir. Mungkin, input yang berada dalam arsip otak mereka sudah habis. Dalam artian, burn out juga boleh dikatakan ‘energi’ yang kita punya atau bahan-bahan di dalam diri kita telah habis, sekarat, kurang lebih macam token listrik yang berbunyi: Tit! Tit! Tit! Padahal, yang tinggal mereka lakukan hanyalah dengan melakukan input kembali. Bukan input yang jenisnya hanya bersifat ‘mengisi ulang pikiran’ seperti membaca buku atau melihat lukisan-lukisan agar mendapat inspirasi, tapi juga input yang bersifat untuk mengisi ulang energi, mengisi ulang motivasi, dan mengisi ulang energi positif dalam mental mereka. Semua itu bisa didapatkan dengan cara yang berbeda-beda, sesuai dengan individu masing-masing. Intinya adalah: lakukan semua aktivitas positif yang memberimu jeda dan kenyamanan dari huru-hara dunia. Jangan sampai karena kalian terkena burn out atau block pada suatu proses pengkaryaan, kalian langsung melakukan input atas nama mengisi inspirasi itu kembali dengan tujuan yang terlalu ditekankan: untuk cepat-cepat menciptakan karya.
Padahal sejatinya, kita harus menikmati input itu sendiri. Sama halnya dengan menikmati proses kita dalam berkarya sehari-hari. Kita bukan mesin kreatif yang dipaksa terus menciptakan sesuatu, mengubah sesuatu, atau mentransformasi sesuatu dan itu sangat tidak apa-apa karena, lagi-lagi, kita adalah manusia, kita punya rasa, kita punya hati yang sifatnya kompleks dan tidak bisa diperkirakan secara akurat dengan angka-angka laiknya perumusan matematika. Banyak yang tidak bisa kita tebak dari seorang manusia.
Dan, jika suatu saat kalian bertemu dengan orang yang (memang) pintar, produktif, berprestasi, lalu keluar seutas pernyataan dari mulutnya yang merendahkan kalian berkata bahwa kalian tidak punya peraihan sebanyak dirinya, maka katakanlah pada mereka: bahwa setidaknya, karakter kalian lebih baik dari mereka. Karena tidak ada yang lebih hebat selain dapat melakukan konsistensi dan displin untuk menjaga sikap serta tindakan kita. Dengan itu saja, dengan tetap memiliki hati yang bersih, tujuan yang murni, kalian sudah menang. Kalian sudah pantas untuk langsung menerima hadiahnya dari Tuhan.
Jadi, buat apa terus memecut diri demi perlakuan orang lain? Kenapa kita tidak terus untuk mencari perhatian, validasi, dan kasih sayang dari diri sendiri? Dari apa-apa yang selalu berada di sebalik cermin, di sebalik kilau pantulan itu? Buat apa kita produktif untuk lirikan mata-mata di luar sana? Kenapa kita tidak berusaha menatap balik, menatap ke dalam untuk apa-apa yang sudah kita lakukan selama ini, lalu merayakannya dengan sukacita?
Komentar