Fase Taktil: Sentuhan Kasih Sayang dan Sentuhan Iman dari Orang Tua
Sumber: Photo by Rowen Smith on Unsplash
Tumbuh kembang anak beriringan dengan istilah golden age. Nah, di fase ini anak sedang gencar-gencarnya menyerap pengalaman baru. Salah satu teori yang bisa bantu kita memahami proses ini adalah Pyramid of Learning. Piramida ini menggambarkan bahwa kemampuan akademik dan keterampilan kompleks anak berdiri di atas fondasi sensorik. Dan salah satu fondasi terpenting adalah taktil atau indra peraba.
Kenapa indra peraba penting untuk menjadi fondasi? Karena melalui kulit, anak pertama kali “berkenalan” dengan dunia. Dari sentuhan ibu saat memeluknya, dari rasa hangat air, sampai tekstur benda yang ia genggam.
Apa itu fase taktil? Taktil adalah kemampuan tubuh merasakan sentuhan, tekstur, suhu, tekanan, bahkan rasa sakit. Bisa dibilang, ini gerbang awal anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Kalau taktil bekerja dengan baik, anak akan merasa aman, tenang, dan siap mengeksplorasi dunia. Ia juga lebih mudah mengembangkan keterampilan motorik halus, misalnya memegang pensil, atau motorik kasar seperti berlari dan memanjat. Sebaliknya, kalau fase taktil kurang terstimulasi, bisa muncul dua masalah:
Terlalu sensitif: anak gampang terganggu dengan bahan pakaian tertentu, enggan menyentuh pasir, atau pilih-pilih makanan.
Kurang sensitif: anak cenderung berperilaku kasar, tidak peka terhadap rasa sakit, atau terlihat “cuek” terhadap lingkungan.
Dua kondisi ini bisa berdampak lebih jauh kepada emosi dan sosial anak. Maka, stimulasi taktil sejak dini sangat penting. Lalu, bagaimana peran orang tua dalam stimulasi sensori anak? Tidak perlu beli mainan mahal, justru aktivitas taktil sangat murah dan mudah dilakukan di lingkungan rumah kita. Berikut ide kegiatan untuk bermain taktil anak:
Bermain tekstur: biarkan anak main pasir, tanah, air, atau memegang kain dengan berbagai bahan.
Sentuhan kasih: pelukan hangat, pijatan lembut setelah mandi, atau sekadar elusan kepala bisa membuat anak merasa dicintai sekaligus menstimulasi kulitnya.
Eksperimen sederhana: masak bareng, ajak anak pegang adonan roti atau sayuran dengan tekstur berbeda.
Bermain di alam: biarkan anak nyeker di rumput, meraba batang pohon, atau main hujan-hujanan.
Jika dilihat dari segi keislaman, anak-anak sudah didorong sejak dini melakukan stimulasi taktil dengan beribadah. Rutinitas beribadah yang bisa dijadikan latihan adalah kegiatan berwudu, gerakan salat, dan berzikir. Dalam masa eksplorasi anak harus didampingi orang tua dan dalam lingkungan yang aman.
Apa dampak ketidakberhasilan fase taktil bagi anak? Seperti yang kita, setiap milestone dalam tugas perkembangan di golden age selalu punya peran di masa depan. Dampak jangka panjang pada perkembangan fase taktil pada anak berfokus pada regulasi perilaku khususnya kesiapan belajar di sekolah. Sebagaimana yang kita tahu, belajar di sekolah memiliki serangkaian rutinitas dan peraturan karena berkaitan dengan interaksi antar anak. Adapun pengaruh fase taktil pada kesiapan belajar anak di sekolah sebagai berikut.
Mendukung fokus dan konsentrasi: sistem taktil yag sudah matang membantu anak duduk tenang dan fokus pada instruksi guru. Sebaliknya, jika fase taktil tidak terstimulasi dengan baik, anak bisa terganggu dengan hal-hal kecil, seperti suara gesekan kursi, suhu ruangan, bahkan kertas yang licin. Gangguan kecil ini menyebabkan anak sulit berkonsentrasi.
Kesiapan mtoroik untuk menulis dan aktivitas sejenisnya: kegiatan menulis, mewarnai, menggunting, atau menempel membutuhkan koordinasi motorik halus yang berdasar pada kematangan fase taktil. Bayangkan, betapa sulitnya anak yang tidak dapat mengikuti kegiatan tersebut sehingga keterampilan akademiknya bisa tertinggal jauh.
Regulasi emosi: Sekolah adalah lingkungan baru bagi anak. Anak dengan sistem taktil yang matang lebih tenang menghadapi perubahan, misalnya bertemu banyak teman, mencoba alat belajar baru, atau berdaptasi pada kebisingan suara teman-teman dalam kelas.
Interaksi sosial: Bermain dengan teman-teman sungguh sangat menyenangkan karena anak akan berlarian, berpegangan tangan, dan tidak jarang berebut mainan. Bagi anak yang fase taktilnya sudah terlatih, aktivitas ini akan dihadapi dengan fleksibel.
Fase taktil adalah pondasi penting dalam Pyramid of Learning. Oleh karena itu, orang tua diharapkan memberikan perhatian dan fasilitas terbaik yang dimiliki untuk mendukung pondasi akademik, sosial, dan emosional anak. Sehingga stimulasi yang dilakukan dapat menjadikan anak sehat jasmani serta rohani.
Referensi:
Meilaine. S.M. (2021). Survei Kemampuan Guru dan Orangtua dalam Stimulasi DIni Sendiri pada Anak Usia Dini. Jurnal Obsesi. 1 (2021), 958-964.
Tjipto. S., Jamaris, M., Azi, A., (2022). Development of learning model based on sensory integration for students experiencing learning disabilities age 7–8 years. Couns-Edu, Vol. 2 No. 2, 48–56
Komentar