Panduan Kemandirian yang Sehat dari Bayi Sampai Praremaja
Orang tua memiliki tugas untuk memberikan tarbiah yang membentuk akhlak serta kemandirian anak. Anak-anak yang lahir ke dunia sudah memiliki fitrah, yaitu potensi beriman kepada Allah, kemampuan membedakan hal yang baik dan buruk, kecendrungan pada kebaikan, kasih sayang, kejujuran, dan kemandirian. Maka, orang tua wajib mengarahkan dan membantu anak dalam mengembangkan hal tersebut. Namun, ketika orang tua terlalu gegabah atau mendadak “melepas”, anak merasa ditinggalkan dan malah menarik diri dari lingkungan atau bahkan yang lebih ekstrem anak akan memberontak. Lalu, apa itu kemandirian yang sehat dalam konteks anak 0-12 tahun?
Kemandirian anak perlu dibangun bertahap sesuai dengan tugas perkembangannya melalui bimbingan orang tua serta orang dewasa di sekitarnya. Menurut Erikson seorang ahli Psikososial dalam teori Autonomy vs. Shame and Doubt mulai dari usia 18 bulan sampai 3 tahun. Pada tahap ini, anak mulai belajar berjalan, berbicara, memilih dan merapikan mainan, makan, dan juga belajar menggunakan toilet. Perkembangan kemandirian anak harus terus diapresiasi orang tua. Jangan sampai orang tua membatasi dan mempermalukan anak sehingga muncul rasa malu dan ragu-ragu dalam diri anak. Selanjutnya, anak pada usia 3-6 tahun atau usia prasekolah akan melalui tahap Initiative vs. Guilt, yakni anak merasa senang mengambil peran dan kerap membayangkan diri sebagai orang dewasa. Muncul dorongan dalam diri anak untuk bermajinasi, mencoba, dan memimpin permainan. Jika pada tahap ini anak lebih sering disalahkan atas keingintahuannya ia akan tumbuh menjadi pribadi yang kerap merasa bersalah. Kemudian, pada usia 6-12 tahun anak akan mengalami tahap Industry vs. Inferiority. Anak-anak akan belajar keterampilan konkret, seperti membaca, menulis, menggambar, berhitung, dan menjalankan proyek berkelompok. Jika anak mampu menjalankan hal-hal tersebut dan terasa sangat produktif, maka rasa percaya diri dan ketertarikannya mencoba hal baru jauh lebih berkembang. Namun, jika pada tahap ini anak merasa dirinya gagal dan kemampuannya tidak sebanding dengan teman yang lain, ia akan rendah diri dan pesimis.
Terkadang orang tua terlalu mengontrol keinginan dengan dalih anak mengotori rumah. Mereka juga berpikir memilihkan aktivitas karena anak masih kecil, atau pun membandingkan anak dengan saudara atau teman yang lebih sukses. Sikap orang tua yang terlalu permisif yang seolah-olah membebaskan anak tanpa batasan dan kedisiplinan akan menjadi boomerang bagi perkembangan anak. Contohnya seperti tidak membentuk anak dengan rutinitas harian, membiarkan anak memilih semua hal sendiri, tidak mengoreksi anak saat ia memukul atau menyakiti teman, dan tidak tahu-menahu teman anak, tujuan mereka pergi, dan hal yang mereka lakukan. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak punya kendali diri dan tidak bertanggung jawab.
Kemandirian anak sejatinya merupakan hasil dari perpaduan beberapa aspek perkembangan, namun yang paling mendominasi ialah perkembangan psikis dan sosial dengan dukungan kuat dari perkembangan kognitif anak. Sebab, tanpa pondasi psikis yang kuat, sikap mandiri sulit tumbuh meski anak memiliki kemampuan kognitif tinggi. Kemandirian anak dibentuk dalam interaksi dengan orang tua, pengasuh serta orang dewasa di sekitarnya. Koneksi emosional yang dapat dibangun antara anak dan orang tua contohnya, rutinitas mengobrol santai setiap malam, berpelukan dan berdoa bersama dan dampingi anak setiap kali hendak mencoba hal baru. Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Bukhari yang berbunyi, “Mudahkanlah setiap urusan dan janganlah kamu mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan kamu membuatnya lari, dan bersatu padulah!”
Referensi:
Sari, Desi Ranita. & Rosyidah, Amelia Zainur. (2019). Peran Orang Tua pada Kemandirian Anak Usia Dini. Early Childhood, 3(1), 2579-2590.
Nasution, Fauziah. Janani, Amalia. & Fadila, Aura Nur. (2023). Perkembangan Psikososial Masa Kanak-Kanak Pertengahan. Edu Society, 3(3), 1176-1188.
Komentar