Memahami Kalimat Iḍāfah: Kaidah dan Contohnya
Mempelajari Al-Qur’an dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan mempelajari dari segi kaidah bahasanya atau ilmu nahwu. Metode ini dapat memperdalam pemahaman seorang muslim mengenai ayat-ayat suci. Tidak hanya itu, pendekatan ini juga membantu seorang dalam memahami struktur kebahasaan yang terdapat pada Al-Qur’an.
Pengertian Iḍāfah
Salah satu kaidah penting dalam bahasa Arab yang sering muncul dalam Al-Qur’an yaitu, iḍāfah. Iḍāfah adalah kalimat yang terbentuk dari penggabungan 2 isim yang tidak saling mensifati, sehingga membentuk makna baru yang spesifik (Ramdani, Hanfah, Hidayah, & Afroni, 2023). Kalimat iḍāfah, terdiri dari 2 isim yang disebut mudhāf dan mudhāf ilaih. Mudhāf adalah kata yang disandarkan, sedangkan mudhāf ilaih adalah kata yang menjadi tempat sandaran. Jadi, idhāfah terjadi ketika sebuah kata disandarkan kepada kata lain sehingga keduanya membentuk satu makna yang utuh dan tidak bisa dipisahkan.
Misalnya dalam frasa “kitābu ṭ-ṭālibi” (كِتَابُ الطَّالِبِ), yang berarti “buku milik siswa”, kata “kitābu” adalah mudhāf karena ia disandarkan, dan “aṭ-ṭālibi” adalah mudhāf ilaih karena menjadi tempat sandaran. Keduanya jika berdiri sendiri belum tentu jelas maksudnya, tetapi ketika digabung dalam bentuk idhāfah, maknanya menjadi lengkap dan jelas. Struktur seperti ini sangat penting dalam bahasa Arab karena dapat memperjelas hubungan antara dua kata dan menghindari makna yang rancu atau membingungkan.
Syarat-Syarat Susunan Iḍāfah
Terdapat syarat-syarat tertentu agar suatu susunan kata disebut iḍāfah, antara lain:
a. mudhof pada susunan iḍāfah tidak berharakat tanwin;
b. mudhof pada susunan iḍāfah tidak kemasukan al- (alif lam);
c. mudhof ilaih pada susunan iḍāfah harus ma’rifat dan dibaca jer.
Contoh-Contoh Susunan Iḍāfah
قَلَمُ اْلطَالِبِ (pulpen murid) قَلَمُ → mudhāf اْلطَالِبِ → mudhāf ilaih
كِتَابُ اللَّهِ (kitab Allah) كِتَابُ → mudhāf اللَّهِ → mudhāf ilaih
بَابُ الْفَصْلِ (pintu kelas) بَابُ → mudhāf الْفَصْلِ → mudhāf ilaih
مُدِيْرُ الْمَدْرَسَةِ (kepala sekolah) مُدِيْرُ → mudhāf الْمَدْرَسَةِ → mudhāf ilaih
Kesimpulan
Mempelajari Al-Qur’an tidak hanya dapat dilakukan melalui bacaan atau tafsir, tetapi juga melalui pemahaman terhadap kaidah-kaidah bahasa Arab, salah satunya adalah idhāfah. Idhāfah merupakan susunan dua kata benda (isim) yang tidak saling mensifati, namun jika digabung akan membentuk makna baru yang lebih spesifik dan utuh. Dalam susunan ini, kata pertama disebut mudhāf (yang disandarkan) dan kata kedua disebut mudhāf ilaih (tempat sandaran). Contohnya seperti “kitābu ṭ-ṭālibi” yang berarti “buku milik siswa”. Supaya suatu frasa bisa disebut sebagai idhāfah, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, seperti: mudhāf tidak boleh bertanwin atau memakai al-, dan mudhāf ilaih harus dalam keadaan ma’rifat dan dibaca jer (majrūr). Dengan memahami konsep ini, seorang Muslim dapat lebih mendalam dalam memahami struktur bahasa dan makna yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
Refrensi
K, Siska. 2023. "Pengertian Idhofah", https://annajmacademy.com/: https://annajmacademy.com/blog/pengertian-idhofah-beserta-syarat-dan-contohnya. Diakses pada 16 Agustus 2025.
Khasanah, A. N., Nawawi, M., & Hasyim, M. Y. (2024). Iḍāfah dalam Surat Al-Anbiyā’ (Analisis Sintaksis). Lisanul Arab, 112-116.
Ramdani, A. F., Hanfah, I. N., Hidayah, N., & Afroni, M. (2023). Analisis Idhofah pada Qiro'ah "Imam Syafi'i" dalam Buku Arabiyah Lin Nasyi'in Jilid 5. Bashrah, 129-134.
Yusuf, M. 2023. "Idhofah (الإِضَافَةُ) : Pengertian, Contoh, Susunan dan Syaratnya", https://www.zonasantri.com/2023/01/pengertian-idhofah-contoh-dan-syarat.html. Diakses pada 12 Juli 2025.
Komentar