Seni Diam: Kekuatan dalam Keheningan
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada pilihan: apakah akan menyampaikan sesuatu, atau justru menahan diri? Islam memberi panduan yang sangat jelas dan bijak dalam hal ini. Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya:
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini, meski singkat tetapi memiliki makna yang mendalam. Dalam hadis ini Rasulullah saw. mengajarkan bahwa tidak semua yang bisa dikatakan harus diucapkan. Diam bisa menjadi bentuk kontrol diri, dan bentuk kasih sayang terhadap sesama. Bahkan, dalam keadaan tertentu diam akan menjadi sebuah solusi terbaik dalam menyelesaikan permasalahan.
Di dalam Al-Qur’an, Allah juga mengajarkan pentingnya berbicara dengan baik. Dalam surah Al-Baqarah ayat 83, Allah memerintahkan agar kita “berkata baik kepada manusia”.
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا .... 83
“ucapkanlah perkataan yang baik-baik kepada manusia ….”
Maksudnya, kita diperntahkan untuk berkata yang baik-baik saja kepada orang lain, jika sekiranya ucapan kita tidak mampu membawa kebaikan, maka diam adalah jalan tengah yang lebih aman.
Namun, penting juga untuk membedakan antara diam yang bijak dan diam yang salah tempat. Dalam Islam, diam bukan berarti membiarkan kemungkaran. Jika seseorang melihat kemaksiatan dan mampu mencegahnya, maka ia tidak boleh diam begitu saja. Sebagaimana sabda Nabi saw.:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Seperti dalam hadis di atas dapat dikatakan bahwa, diam menjadi solusi hanya jika ucapan kita tidak membawa manfaat, atau malah memperkeruh suasana. Dalam konteks konflik, kadang diam lebih elegan daripada perdebatan. Dalam relasi sosial, diam bisa menjadi tanda kedewasaan, bukan kelemahan. Tetapi, jika mendapati kemaksiatan, diam adalah selemah-lemahnya iman.
Diam juga merupakan bagian dari sarana refleksi. Dalam tafsir para ulama, salah satu hikmah dari puasa (termasuk puasa lisan) adalah melatih diri untuk menahan diri dari kata-kata yang buruk, sia-sia, atau menyakitkan. Dalam sejarah Islam, kita juga menemukan para salaf saleh seperti Hasan al-Bashri yang dikenal sangat hati-hati dalam berbicara. Ia sering berkata, "Lidah itu tajam, jika tidak dijaga bisa lebih berbahaya dari pedang."
Maka, Islam mengajarkan keseimbangan antara berkata baik bila perlu, dan diam bila tak ada manfaat. Di zaman media sosial seperti sekarang, nasihat Nabi ini menjadi sangat relevan. Ketika jari terasa ringan untuk mengetik komentar, atau hati ingin sekali membalas sindiran—ingatlah bahwa diam bukan berarti tanda kalah, melainkan tanda kuatnya iman. Dan terkadang, diam itu lebih menenangkan daripada seribu penjelasan.
Mari renungkan kembali: sebelum berbicara, tanyakan pada diri sendiri, “Apakah ini benar? Apakah ini baik? Apakah ini perlu?” Jika tidak memenuhi salah satu kriteria itu, maka diam bukan hanya bijak, tapi berpahala.
Referensi:
1. Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 83
2. Al-Bukhari, M. I. (n.d.). Shahih al-Bukhari. Hadis no. 6018.
3. Muslim, I. H. (n.d.). Shahih Muslim. Hadis no. 47.
4. Tirmidzi, M. I. (n.d.). Sunan at-Tirmidzi, hadis no. 2317.
5. Anggraini, Novia, Idi Warsah, and Masudi Masudi. Nilai-Nilai Edukatif dalam Ibadah Puasa Ramadhan Menurut Al-Ghazali dan Implikasinya terhadap Pembentukan Karakter. Diss. Institut Agama Islam Negeri Curup, 2019.
6. Rumaysho. “Hadits Arbain ke-15: Berkata yang Baik, Memuliakan Tamu dan Tetangga.” Rumaysho.com, https://rumaysho.com/18958-hadits-arbain-15-berkata-yang-baik-memuliakan-tamu-dan-tetangga.html. Diakses 14 Juni 2025.
Komentar