Dari Tangan Pencuri ke Hati yang Bersujud

Gambar sampul untuk Dari Tangan Pencuri ke Hati yang Bersujud

Sumber: cerpen

        Prolog

        Raka lahir dari keluarga miskin di pinggiran kota. Ayahnya meninggal saat ia masih kecil, dan ibunya bekerja keras agar Raka dan adiknya tetap bisa makan. Karena lapar, Raka mulai mengambil barang kecil dari tetangga. Ibunya menasehatinya agar tidak mengulanginya, tapi perlahan ia terbiasa hidup dengan mencuri.

        Setelah ibunya meninggal, Raka semakin terjerumus ke dunia gelap. Ia hidup dari mencuri motor, dompet, atau barang kecil lainnya. Tidak ada rasa bersalah lagi, hingga suatu malam, sebuah kejadian mengubah hatinya.

        Babak 1 Bayangan Malam

        Gang-gang Surabaya malam itu sunyi, hanya diterangi lampu jalan yang redup dan suara anjing menggonggong dari kejauhan. Di antara kegelapan, seorang pria melangkah cepat dengan tubuh membungkuk, berusaha menyatu dengan bayangan tembok kusam. Namanya Raka. Di kampungnya, ia dikenal sebagai pencuri jalanan.

        Raka terbiasa hidup dari hasil curian. Tangannya begitu cekatan, seolah sudah hafal setiap celah kunci rumah, setiap titik lemah pagar tua. Malam ini, matanya menangkap sebuah rumah sederhana. Lampunya padam, hanya cahaya kecil dari kamar belakang yang temaram. Dengan hati-hati, ia menyelinap masuk.

        Tangannya menyambar dompet lusuh di atas meja kayu. Namun, langkahnya mendadak terhenti. Dari kamar terdengar suara doa lirih.

        “Ya Allah, lindungilah keluarga kecil kami. Ampunilah siapa pun yang berbuat zalim pada kami. Berilah mereka jalan untuk kembali pada-Mu…”

        Raka terpaku. Kata-kata itu menembus dadanya lebih tajam daripada pisau. Ia membuka dompet curiannya, mendapati uang receh, sebuah KTP, dan foto keluarga: ayah, ibu, dan seorang anak perempuan kecil. Senyum polos anak itu membuat tangannya gemetar.

        Sekejap, wajah ibunya melintas di kepalanya. Suara yang sudah lama hilang seakan kembali.

        “Nak, jangan pernah jadi pencuri. Nasi hasil mencuri itu racun. Ia akan menghitamkan hatimu.”

        Air matanya hampir jatuh. Dengan langkah gontai, ia pergi dari rumah itu, membawa dompet yang seolah membakar tangannya sendiri.

        Babak 2 Masa Lalu yang Kelam

        Raka bukan terlahir sebagai pencuri. Ia anak tunggal dari keluarga miskin. Ayahnya meninggal karena sakit keras ketika Raka baru berumur tujuh tahun. Sejak itu, ibunya bekerja keras, mencuci pakaian tetangga dan menjahit baju lusuh untuk bertahan hidup. Meski ibunya rela tidak makan demi Raka, rasa lapar tetap menghantui. Suatu sore, perut kecilnya yang kosong membuatnya nekat mencuri sepotong roti dari warung. Pemilik warung memarahinya, namun ibunya yang paling hancur.

        “Raka!” bentak ibunya sambil mengguncang bahunya. “Kau lapar, bilang pada Ibu. Jangan ambil yang bukan hakmu! Sekali kau terbiasa, hatimu akan rusak!”

        Tangis ibunya membuat Raka merasa bersalah, tapi lapar lebih sering menang. Hari demi hari, ia semakin lihai mengambil barang kecil-kecilan. Ibunya tidak pernah lelah menasihati. Bahkan menjelang ajalnya, dengan napas yang tinggal tersisa, ibunya masih berpesan:

        “Raka, jangan jadi pencuri. Kalau kau ingin hidup, hiduplah dengan jujur.”

        Namun, setelah kematian ibunya, pesan itu perlahan terkubur. Hidup tanpa arah, ia bergaul dengan orang-orang jalanan. Mencuri menjadi jalan pintas untuk bertahan hidup. Ia tumbuh sebagai maling yang lihai, sekaligus hampa.

        Babak 3 Pertemuan dengan Cahaya

        Keesokan harinya, hati Raka masih gelisah. Entah dorongan dari mana, ia kembali ke rumah tempat ia mencuri tadi malam. Dengan tangan gemetar, ia letakkan dompet itu di depan pintu. Ia hampir lari ketika pintu terbuka.

        Seorang pria paruh baya berdiri, wajahnya teduh. Ia menatap Raka tanpa amarah.

        “Kau yang ambil dompetku?” suaranya tenang.

        Raka menunduk. Kata-kata terhenti di tenggorokannya.

        “Tapi kau juga yang mengembalikannya,” lanjut pria itu. “Itu berarti hatimu belum mati. Nak, setiap orang punya kesempatan untuk berubah.”

        Raka terkejut. Seumur hidup, ia hanya mendengar cacian, bukan kalimat setenang ini. Pria itu, Pak Hasan namanya bahkan mengajaknya masuk. Di dalam rumah sederhana itu, istri Pak Hasan menyuguhkan teh hangat, sementara anak kecil bernama Hana tersenyum polos pada Raka.

        Hati Raka semakin kacau. Ia merasa kotor, duduk di kursi orang baik. Malam itu, ia tak bisa tidur. Kata-kata Pak Hasan terus terngiang: “Setiap orang punya kesempatan untuk berubah.”

        Dalam mimpinya, ibunya muncul. “Raka, sampai kapan kau menutup mata dari cahaya?”

        Ia terbangun dengan keringat dingin.

        Babak 4 Sujud Pertama

        Hari-hari setelah itu, Raka berusaha menahan diri dari mencuri. Pak Hasan memberinya pekerjaan sederhana di pasar, mengangkat karung beras dan membantu menata dagangan. Upahnya tidak banyak, tapi ketika menerima lembar uang pertama yang halal, Raka menatapnya lama sekali. Air matanya jatuh. “Ternyata… begini rasanya,” gumamnya.

        Namun jalan hijrah penuh duri. Orang-orang pasar berbisik setiap kali melihatnya.

        “Itu maling. Hati-hati kalau barangmu hilang.”

        “Sekali maling, tetap maling.”

        Raka pura-pura tidak mendengar, meski hatinya perih. Malam-malam ia sering menatap langit, bertanya pada dirinya: “Apakah mungkin aku berubah?”

        Suatu malam, rasa lapar menyerang. Ia melihat motor terparkir tanpa kunci. Godaan menyergap. Tangannya hampir meraih setang. Tapi tiba-tiba ia teringat wajah ibunya dan suara doa dari rumah Pak Hasan. Tubuhnya gemetar. Ia jatuh bersujud di aspal jalan, air mata bercucuran.

        “Ya Allah… aku ini pencuri. Aku kotor. Tapi izinkan aku pulang… jangan biarkan aku kembali ke gelap.”

        Besoknya, ia memberanikan diri ke masjid. Shalat pertamanya berantakan, bacaan tersendat. Jamaah lain menoleh aneh. Tapi Raka tidak peduli. Air matanya membasahi sajadah. Untuk pertama kalinya, ia menemukan sedikit kedamaian.

        Babak 5 Jalan Terjal

        Meski sudah mencoba, hidup jujur ternyata berat. Raka beberapa kali melamar kerja di toko dan gudang, tapi ditolak begitu riwayatnya diketahui.

        “Maaf, kami tidak bisa menerima mantan pencuri.”

        Penolakan itu menusuk. Pernah pula seorang anak kecil menangis ketakutan ketika melihatnya. “Itu maling!” seru anak itu. Raka terdiam, merasa hatinya remuk.

        Namun setiap kali hampir putus asa, Hana, anak Pak Hasan, berlari memeluknya.

        “Kak Raka baik, kan? Kak Raka bukan maling lagi, kan?”

        Pertanyaan polos itu membuat Raka menangis. “Iya, Hana. Kakak sedang belajar jadi baik.”

        Babak 6 Fitnah

        Suatu pagi, pasar geger. Dagangan Bu Sarmi hilang. Tanpa pikir panjang, semua menuding Raka.

        “Sudah jelas dia! Siapa lagi kalau bukan maling ini!”

        Ia digiring ke pos polisi, dipukul beberapa kali. Hatinya hancur. “Apakah selama-lamanya aku hanya dianggap maling?”

        Namun, sebelum putusan dijatuhkan, muncul saksi bernama Johan. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bahwa pelaku sebenarnya adalah Bandi, teman lama Raka di jalanan. Bandi memang sengaja menjebaknya.

        Bandi menatapnya dengan tatapan meremehkan.

        “Kau bisa bohongi dirimu, Rak. Tapi sekali maling, dunia takkan percaya kau berubah.”

        Raka menahan sakit hati. Dengan suara pelan, ia hanya berkata, “Aku maafkan kau, Band.”

        Orang-orang terdiam. Mereka tidak menyangka.

        Babak 7 Pengkhianatan

        Belum lama dari kejadian itu, kabar mengejutkan datang. Polisi membongkar bukti bahwa Pak Hasan ternyata pernah bersekongkol dengan Bandi, terpaksa karena terlilit hutang.Dunia Raka runtuh. Sosok yang ia anggap cahaya ternyata juga pernah rapuh. Malam itu ia menangis dalam sujud. “Ya Allah, aku tidak punya siapa-siapa lagi. Kalau bahkan orang baik bisa jatuh… hanya Engkau sandaranku.”

        Sejak itu, Raka benar-benar berpegang hanya pada Allah. Ia tidak lagi berharap manusia akan memahaminya.

        Babak 8 Cahaya Hijrah

        Hari-hari berikutnya, Raka tetap bekerja. Ia tidak peduli cibiran. “Aku hijrah bukan untuk manusia, tapi untuk Allah,” katanya pada dirinya sendiri. Perlahan, perubahan itu terlihat. Anak-anak kecil mulai mendekat, meminta diajari membaca. Para pedagang menitipkan barang dagangan tanpa curiga. Orang-orang mulai percaya, meski butuh waktu lama.

        “Dulu tangan ini mencuri,” bisiknya suatu malam. “Kini tangan ini memberi. Dulu hati ini gelap. Kini ia belajar bersujud, meski masih penuh luka.”

        Di sepertiga malam, Raka duduk di sajadah tipis. Air matanya deras. Doa yang sama ia ucapkan berulang kali: “Ya Allah, jangan biarkan aku kembali pada gelapku. Biarlah aku mati dalam cahaya-Mu, dalam sujudku pada-Mu.”

        Dan untuk pertama kalinya, dalam hening malam, ia benar-benar merasa bebas.

Komentar

Memuat komentar...