Gambar sampul untuk Nek Iyem

Sumber: cerpen

        Seperti biasa, sebelum berangkat sekolah, Sendja membangunkan neneknya untuk sarapan. Namun, pagi ini berbeda. Nek Iyem tak kunjung bangun. Sendja berusaha membangunkan, mengguncang pelan tubuh ringkih itu, tetapi nihil. "Nek, bangun, Nek. Sendja sudah lapar.”

        Sendja mencari bantuan. Pertama, Puspa—mamanya. Sayang, Puspa terlalu sibuk mengurus Dino—adik Sendja yang manja. "Mama sibuk, Sendja. Nanti saja," jawab Puspa tanpa menoleh. Keputusan terakhir, Dedi. Namun, Dedi juga harus mengurus Dino yang merengek minta sarapan. Sendja kesal. Ia merasa diabaikan.

        Sendja kembali memeriksa Nek Iyem. Betapa terkejutnya ia saat tubuh Nek Iyem terasa dingin. Jantungnya berdebar kencang, Sendja mengecek nadi di pergelangan tangan neneknya. Bak tersambar petir di siang bolong, Sendja meraung-raung. Nadi itu tak berdenyut lagi.

        Dengan embun yang membasahi pipi, Sendja berlari ke ruang tengah. "Ma, Pak, nenek meninggal!" teriaknya histeris.

        Seketika Dedi bangkit dari duduknya. "Yang benar kamu, Nak? Jangan bercanda, tadi subuh bapak lihat nenek lagi solat."

        "Kalo bapak nggak percaya, cek aja sendiri!" teriak Sendja dengan suara serak, bercampur amarah dan kesedihan.

        Dedi dan Puspa menuruti perintah sang putri. Mereka bergegas masuk ke kamar Nek Iyem. Dino ikut membuntuti dengan wajah bingung. Sama seperti Sendja, Puspa terkejut saat menyentuh tubuh Nek Iyem yang sudah dingin. Dedi, dengan tangan gemetar, mengecek nadi sang ibu. Syok. Nadi itu tak terdeteksi.

        Berita meninggalnya Nek Iyem tersiar ke seluruh penjuru kampung Suka Ambal. Para tetangga berdatangan, memenuhi rumah duka. Sendja izin tidak masuk sekolah, ingin mengantar sang nenek ke peristirahatan terakhir. Rumah keluarga Dedi dipenuhi pelayat, lantunan ayat suci Yasin menggema di setiap sudut rumah. Sendja tak henti-hentinya menangis, gadis itu terpukul ditinggal Nek Iyem selama-lamanya. Siapa lagi yang akan menyayanginya seperti Nek Iyem? Kepada siapa ia bisa bersandar setelah ini?

        Tujuh hari sudah Nek Iyem pergi. Tujuh hari sudah pula Sendja mengurung diri dalam kamar, enggan makan, dan enggan bicara. Tak ingin putrinya berlarut-larut dalam kesedihan, Dedi memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Ia berharap, suasana baru dapat mengobati luka di hati Sendja.

        "Bagaimana kalau kita pindah ke Jakarta? Biar kamu tidak seperti ini terus," ujar Dedi penuh pertimbangan.

        Sendja mengangkat kepalanya, menatap ayahnya dengan mata merah. "Bapak bercanda? Bagi Sendja, rumah ini penuh kenangan. Bapak nggak paham perasaan Sendja. Memangnya bapak mampu memberi kasih sayang ke Sendja seperti nenek? Bapak dan Mama selalu perhatian ke Dino. Sementara aku?" Sendja menunjuk dadanya sendiri. "Aku hanya potongan puzzle  kecil yang nggak terlihat sama bapak."

        Dedi menghela napas kasar. "Kali ini bapak janji nggak pilih kasih lagi."

        "Terserah," pasrah Sendja lalu beranjak pergi.

        Dedi akhirnya memberitahu keputusan ini ke Puspa. Awalnya, Puspa ragu, tetapi setelah mendengar alasan Dedi, ia pun setuju. Hari itu juga, Dedi mengajukan surat pengunduran diri ke perusahaan. Sore itu, mereka bersiap berangkat ke Jakarta. Tiket pesawat sudah di tangan.

        Malam harinya, mereka tiba di Jakarta. Dino langsung terlelap karena kelelahan. Puspa meminta bantuan Sendja untuk membereskan barang-barang, tetapi Sendja menolak.

        "Mama kenapa maksa aku? Kenapa cuma aku yang bisa bantu mama? Dino juga, kan, bisa. Kita kerja sama-sama, bukan cuma aku, tapi Dino juga," Sendja kesal.

        "Dino capek, Sendja. Kamu, kan, anak pertama," kata Puspa.

        "Aku juga capek, Ma." Sendja menatap sang ayah, berharap Dedi membelanya. "Pak, ini Mama capek loh, mau istirahat. Kenapa nggak besok aja?"

        "Itu tugas kamu, Nak. Kamu kan anak pertama," putus Dedi, lalu berlalu begitu saja.

        Dengan terpaksa, Sendja membantu Puspa. Mulutnya terus mengoceh, melampiaskan kekesalan. Puspa semakin geram.

        "Kalo nggak ikhlas, nggak usah dikerjain!" ketus Puspa.

        Kata-kata itu bagai belati yang menancap di hati Sendja. Rasanya sesak, dadanya bergemuruh hebat, matanya memanas. Sendja meninggalkan Puspa begitu saja. Tiba di kamar, tangisnya pecah. Ia menelungkupkan wajah pada kedua kakinya. Semakin lama menangis, kepalanya semakin berdenyut sakit. Gadis itu beralih ke ranjang, memeluk foto almarhum Nek Iyem. Tanpa sadar, ia terlelap.

        Keesokan harinya, Sendja bangun dengan mata sembab. Ia kesal karena kedua orang tuanya seolah tak peduli dengan kondisinya. Sendja sarapan tanpa suara, lalu berpamitan untuk berangkat sekolah. Namun, Puspa menolak menjabat tangannya karena tangannya kotor, sedangkan Dedi masih sibuk dengan makanannya.

        "Dino pamit, ya, Ma." Tangan Dino terulur ke Puspa.

        Dengan senang hati, Puspa mencuci tangannya, lalu mengelus lembut pipi anak bungsunya. Tak lupa, ia memberi kecupan di kedua pipi dan kening Dino. "Hati-hati, ya, Nak."

        "Maa, aku berangkat." Untuk yang kedua kalinya, Sendja mengulurkan tangannya ke Puspa.

        "Mama lagi sibuk urus sisa makanan. Kamu berangkat aja, lagian udah mama kasih uang, kan?" kata Puspa tanpa melirik Sendja sedikit pun.

        Lagi-lagi, hati Sendja tertampar. Yang ia butuhkan bukan uang, melainkan perhatian. Dengan senyum kecut, Sendja berangkat sekolah.

        Sepulang sekolah, suasana hati Sendja masih murung. Namun, saat melihat Puspa membawa dua kantung plastik, semangatnya kembali membara. Pasti di sana ada makanan kesukaannya yang telah ia pesan, Sendja yakin itu.

        Sendja berlari kecil menghampiri Puspa. "Mana, Ma, Sendja bantu."

        Puspa menyerahkan satu kantung plastik di tangan kanannya. "Mekasih, ya."

        Saat melihat isi kantung plastik itu, Sendja merasa kecewa. "Ma, pesananku mana?"

        "Mama nggak beli roti cokelat. Dino minta susu, uang mama nggak cukup," sahut Puspa membuat Sendja tertunduk lesu.

        Kali ini, Sendja tak ambil hati soal roti cokelat pesanannya. Lagi pula, ia sudah makan roti cokelat saat istirahat di sekolah. Mungkin benar, mamanya tak memiliki cukup uang untuk membeli susu dan roti cokelat sekaligus karena pengeluaran bulan ini besar ditambah ongkos ke Jakarta demi Sendja tak berlarut-larut dalam kesedihan.

        Malam tiba. Setelah makan malam, Sendja ke kamarnya untuk belajar. Namun, saat mengecek ponsel, ternyata paket datanya habis. Meski ragu-ragu, Sendja memberanikan diri untuk menyampaikan kendalanya.

        "Ma, paket data Sendja habis. Boleh minta uang buat beli paket data?" pinta Sendja memelas.

        "Waduh, mama nggak pegang uang. Minta sama bapakmu sana."

        Sendja mengalihkan pandangannya ke arah Dedi. "Pak?"

        "Maaf, Nak, uang bapak cuma lima puluh ribu, itu pun untuk kebutuhan Dino sama kebutuhan pokok kita. Bapak juga baru beli ponsel buat Dino. Kasihan Dino, teman-temannya sudah punya ponsel, dia belum."

        "Kalo bapak nggak punya uang, kenapa bapak bisa beli ponsel buat Dino?" tanya Sendja tegas.

        Tanpa menunggu jawaban dari Dedi, Sendja masuk ke kamar lalu menutup pintunya keras-keras. Seperti biasa, Sendja kembali menangis, mengurung diri di kamar. Saat tengah meluapkan emosinya, Sendja mendengar suara Nek Iyem yang memanggilnya. Sendja menurunkan selimut di wajahnya, matanya menelusuri setiap sudut kamar, mencari sumber suara.

        "Nek, Nenek di mana?" tanya Sendja yang sudah beranjak dari ranjang.

        "Aku di sini, cucuku," kata bayangan yang mirip seperti bayangan Nek Iyem.

        Sendja menghambur ke pelukan bayangan itu. "Ya Allah, Nek. Aku rindu."

        "Baru ditinggal dua minggu sudah rindu, ehmm?"

        Sendja mengangguk, terukir senyum tipis di bibirnya. Sendja menceritakan bagaimana Puspa dan Dedi pilih kasih dengannya. Nek Iyem mendengarkan cerita Sendja dengan baik, tanpa menghakimi. Tak hanya itu, Nek Iyem juga menasihati Sendja untuk salat, rajin membaca Al-Qur’an, dan menambah amal saleh. Namun, Nek Iyem juga menyuruh Sendja agar melawan kedua orang tuanya saat mereka berlaku tidak adil.

        Mulai hari itu, Sendja selalu menceritakan semua kegiatannya kepada bayangan Nek Iyem. Sejak hari itu pula, Sendja kembali merasakan kasih sayang, memiliki tempat bersandar, dan merasa dicinta. Akhirnya, Sendja menjadi anak yang rajin beribadah, berprestasi, baik, hanya saja Sendja menjadi tinggi hati dan selalu ria dengan amal ibadahnya.

        Suatu hari, Sendja bertemu dengan Iqbal, teman sekelasnya yang dikenal alim dan bijaksana. Iqbal melihat perubahan pada diri Sendja dan merasa khawatir. Ia mendekati Sendja dan mengajaknya berbicara.

        "Sendja, aku perhatikan kamu akhir-akhir ini berbeda. Kamu jadi lebih sombong dan suka membantah. Ada apa?" tanya Iqbal dengan nada lembut.

        Sendja terkejut mendengar pertanyaan Iqbal. Ia berusaha menyembunyikan perasaannya, tetapi Iqbal terus mendesaknya. Akhirnya, Sendja menceritakan tentang bayangan neneknya.

        Iqbal mendengarkan cerita Sendja dengan saksama. Setelah Sendja selesai bercerita, Iqbal menjelaskan bahwa bayangan itu bukanlah neneknya yang sebenarnya. Bayangan itu adalah jin yang menyerupai neneknya untuk menyesatkan Sendja.

        "Sendja, kamu sadar nggak itu jin? Jin itu ingin membuatmu jauh dari Allah. Ia ingin membuatmu sombong dan membenci orang tuamu. Jangan biarkan jin itu mengendalikanmu," kata Iqbal dengan nada serius.

        Awalnya, Sendja tidak percaya dengan perkataan Iqbal. Ia merasa bahwa Iqbal hanya iri padanya karena tidak memiliki "nenek" seperti dirinya. Namun, Iqbal tidak menyerah. Ia terus berusaha meyakinkan Sendja dengan memberikan contoh-contoh tentang bahaya jin dan setan yang menyesatkan.

        Iqbal mengajak Sendja untuk ikut kajian tentang jin dan setan. Di sana, Sendja belajar tentang bagaimana jin dan setan dapat menyesatkan manusia dengan berbagai cara. Ia juga belajar tentang bagaimana cara melindungi diri dari gangguan jin dan setan. Sendja juga dirukiah agar bersih dari gangguan jin yang menyerupai Nek Iyem.

        Setelah mengikuti kajian itu, Sendja mulai menyadari bahwa Iqbal benar. Bayangan neneknya bukanlah neneknya yang sebenarnya. Bayangan itu adalah jin yang ingin menyesatkannya. Sendja memutuskan untuk menjauhi bayangan neneknya. Ia mulai mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah dan berdoa. Ia juga berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan orang tuanya. Sendja juga meminta maaf pada kedua orang tuanya. Puspa dan Dedi turut meminta maaf pada Sendja. Puspa, yang pernah melihat Sendja berbicara sendiri, memutuskan untuk memberi hadiah kepada sang putri berupa ziarah ke makam sang mertua.

Komentar

Memuat komentar...