Lebih Peka dari Mulut dan Telinga Manusia

Gambar sampul untuk Lebih Peka dari Mulut dan Telinga Manusia

Sumber: cerpen

        Aku tak pernah tahu suara itu seperti apa. Dunia bagiku serupa irama getaran. Ayah, nelayan yang tangannya kasar dan hangat, pernah menjelaskan. “Seperti gemuruh dan nyanyian,” katanya. Tapi bagiku, semua hanya gelombang yang berbeda saat menyentuh kaki ini. Gelombang ombak yang menampar karang, getaran tawa anak-anak di dermaga, atau dentum keras saat badai mengamuk. Semuanya terpisah, tak pernah menjadi satu melodi utuh.

        Sejak kecil, aku sudah terbiasa dengan keheningan. Orang-orang di desa menatap dengan iba. Mereka mengira hidupku sepi dan kosong. Tapi mereka tak tahu, aku memiliki dunia yang lebih kaya. Bisa merasakan embusan angin yang menari di atas air dan getaran halus dari seekor ikan yang melintas di bawah perahu. Aku tahu kapan badai akan datang, bukan dilihat dari langit yang gelap, tapi mendengar gelombang air yang mulai menggulung, dengan irama tak beraturan. Di situlah, aku menemukan ketenangan yang tak bisa mereka pahami.

        Mereka selalu bilang, “Suara azan itu indah, membuat hati tenteram.”

        Mereka memandangku, seolah kasihan karena tak pernah merasakan ketenangan itu. Aku hanya bisa melihat bibir yang bergerak, lalu mereka menunduk. Di dalam hati, aku bertanya, apakah Tuhan hanya berbicara melalui suara? Apakah Dia tidak mau berbisik pada orang sepertiku, yang hanya bisa merasakan? Pertanyaan itu menghantui, membuatku merasa terasingkan. Bukan karena berbeda, tapi aku merasa terputus dari sebuah hubungan yang mereka anggap suci.

        Hidupku bagaikan perahu kecil. Ayah mengajari cara mengarahkan perahu itu hanya dengan merasakan arus.

        “Dengar ombaknya, nak,” katanya, sambil menyentuh bahu.

        Aku tidak bisa mendengar, tapi sangat perasa. Getaran ombak yang lembut menuntun perahu di malam hari, saat bintang-bintang menjadi satu-satunya petunjuk. Aku tahu di mana ada ikan dari getaran riak air yang tak biasa. Semua yang aku butuhkan berasal dari getaran, bermodal rasa bukan mengandalkan telinga.

        Suatu sore, langit tiba-tiba berubah warna. Bukan rintik hujan, tapi gemuruh di kejauhan. Warga desa tidak peduli, mereka melanjutkan nyanyian syukur setelah panen ikan yang melimpah. Aku menempatkan tanganku di atas air. Getaran itu terasa seperti irama yang berteriak. Kencang, lalu merayap pelan, kembali lagi. Bukan getaran ombak yang biasa. Aku menatap Ayah, tanganku memberi isyarat.

        “Ada yang salah, Yah. Perahu harus ditarik ke darat.”

        Ayah, yang tahu kepekaanku langsung memerintahkan semua orang untuk menarik perahu. Tapi orang-orang menertawakannya. Dari mimik mereka terbaca, “Langit cerah. Badai apaan?”

        Aku tidak bisa meyakinkan, karena tidak punya suara untuk berteriak: hanya bisa menggerakkan tanganku dengan putus asa, seolah perahu itu hidup dan aku bisa mengendalikannya. Ayah menatapku dan tersenyum.

        “Mereka akan mengerti, Tuhan memberimu cara lain untuk bicara.”

        ***

        Badai akhirnya datang. Tidak ada jeda waktu. Datang begitu saja, seperti tamu tak diundang yang merusak semua. Angin mengamuk. Langit gelap pekat, bukan karena malam, tapi karena amarah. Gelombang air kelihatan mulai naik tak menentu dari arah lain. Perahu-perahu yang tak sempat ditarik langsung terbalik, pecah berkeping-keping.

        Di tengah semua kekacauan itu, getaran yang kurasakan menjadi satu irama yang sama. Getaran terkuat yang pernah kurasakan, bukan gemuruh angin, melainkan sebuah denyutan konstan di dalam air. Aku tahu persis. Pengalaman bertahun-tahun di laut telah mengajarkanku bahwa setiap gelombang punya pola. Bahkan saat badai, di bawah permukaan yang kacau, arus yang lebih dalam tetap mengikuti sebuah alur. Getaran memberitahuku di mana perahu yang masih bisa diselamatkan. Aku meletakkan tangan di atas perahu Ayah, merasakan getaran itu sebagai sebuah kompas hidup yang akan menuntun.

        “Kesana!” isyaratku.

        Aku tidak meminta Ayah untuk melawan ombak. Itu tindakan bunuh diri. Sebaliknya, aku mengisyaratkan Ayah untuk mengikuti irama itu. Perahu tidak bergerak lurus, melainkan mengikuti alur dari getaran yang kurasakan. Kami melaju, terkadang naik di puncak gelombang, lalu dengan cepat merosot turun di celah antar gelombang, namun tetap stabil.

        Itu adalah teknik kuno, hanya sedikit nelayan yang masih menguasainya, sebuah cara membaca laut yang tidak diajarkan di mana pun. Kami bergerak di antara puing-puing perahu yang pecah, hanya berpanduan pada getaranku. Satu per satu, perahu yang tersisa kami tarik. Mereka mengikutiku, meskipun tidak bisa bicara, apalagi mendengar. Mereka melihat getaran yang sama denganku.

        Namun di tengah perjalanan, sebuah getaran lain muncul. Bukan dari perahu atau ombak, arahnya dari dalam air. Getaran itu terasa dingin dan putus asa. Itu isyarat dari seseorang yang sedang tenggelam, tetapi jaraknya sangat jauh dari perahu Ayah. Orang-orang di perahu tidak merasakan getaran ini. Mereka hanya sibuk mengendalikan perahu yang sudah kami selamatkan. Aku melihat isyaratku, dan mata Ayah dipenuhi keraguan. Ia tahu bahaya di luar sana. "Tidak bisa," isyaratnya. "Terlalu berbahaya."

        Getaran itu memanggilku. Rasanya seperti ada tangan yang memohon dari dalam air. Aku melihat perahu Ayah yang sudah selamat. Lalu, melihat ke arah getaran putus asa itu. Getaran yang dulu terasa sebagai bisikan Tuhan, seperti sebuah perintah yang tidak bisa kuabaikan. Aku harus mengambil keputusan: tetap di perahu Ayah, di mana aku akan aman, atau melompat dan mencoba mencari getaran itu sendirian.

        Aku menatap Ayah sekali lagi. Pandangan mata Ayah berubah. Ia mengangguk, isyarat tanpa suara hanya kami berdua yang mengerti. Aku melompat. Dingin air laut langsung menusukku. Gelombang kuat mendorongku hampir hilang arah. Aku berjuang melawan arus, hanya berpanduan pada getaran dari orang yang tenggelam itu. Getarannya melemah, lalu menguat kembali. Tiba-tiba, tanganku menyentuh sesuatu: Kain. Aku menariknya sekuat tenaga. Ia adalah seorang wanita, nelayan dari desa seberang, yang perahunya hancur.

        Aku menuntunnya kembali ke perahu Ayah. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menatapku dengan mata yang penuh rasa terima kasih. Di tengah badai, aku menyelamatkan perahu mereka, termasuk banyak nyawa. Di situlah aku sadar, getaran yang tercipta bukan hanya untukku, juga untuk orang lain.

        ***

        Hari sudah pagi. Aku duduk di pinggir pantai. Getaran dari air laut terasa lembut. Tiba-tiba, aku kembali merasakan getaran yang sama seperti di tengah badai. Bukan dari ombak, tapi dari dalam. Getaran itu, yang kuyakini adalah suara Tuhan. Tidak berbicara dengan suara yang bisa didengar telinga, getaran yang hanya bisa dirasakan hati. Pada saat itu, aku mengerti mengapa dilahirkan tanpa suara.

        Aku menundukkan kepala, menangkupkan kedua telapak tangan, merasakan pasir dan sisa-sisa air laut yang menempel di sana. Perlahan, getaran itu merayap dari dada, mengisi seluruh tubuh hingga mencapai ujung jari-jariku.

        Lalu kuangkat kedua tangan, menggerakkannya perlahan. Gerakan itu bukan sebuah isyarat, bukan juga sebagai bahasa. Gerakan itu menjelma doa tanpa kata, melodi yang tidak pernah terdengar orang-orang, dan sebuah nama yang tidak mungkin terucap. Aku menggerakkannya seolah sedang melukiskan sesuatu di udara. Melukiskan nama-Nya, yang kutahu, tidak butuh suara untuk memanggil-Nya. Nama itu ada di setiap getaran yang terasa. Pada setiap embusan angin, deburan ombak, dan gerakan tangan.

        Di malam hari setelah desa kembali tenang, aku duduk dekat api unggun. Orang-orang sibuk memperbaiki jaring mereka. Seorang anak kecil, yang selamat di perahu yang kupandu, asik menatapku. Ia berjalan mendekat dan menyentuh tanganku, meminta isyarat. Aku tersenyum, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tiba-tiba, sebuah ide muncul. Aku mengambil sebuah ranting kecil dan mulai menggambar di tanah. Bukan menggambar perahu atau ikan, tapi menggambar sebuah gelombang, lalu gelombang lain yang saling terhubung. Aku menggambar sejenis irama. Anak itu mengamati dengan serius.

        Ayah datang dan duduk di samping, ia menatapku. Aku sadar tidak bisa lagi menjadi diriku yang lama, karena telah menemukan sebuah bahasa baru berupa panggilan. Dan tidak tahu, ke mana panggilan itu akan membawaku.*

Komentar

Memuat komentar...