Gambar sampul untuk Di Ujung Doa

Sumber: cerpen

        Langit musim dingin London tampak abu-abu, sama seperti perasaan Salma pagi itu. Jemarinya yang mungil merapat ke saku jaket, menahan gigil sambil melangkah ke gerbang sekolah. Seragamnya sama dengan siswa lain, hanya berbeda di satu hal yaitu hijab biru muda yang menutup rambut coklatnya. Dan dari situlah semua mata terasa menancap, seolah ia adalah noda yang menonjol di tengah halaman putih.

        Sudah sebulan Salma tinggal di Inggris mengikuti ayahnya yang mendapat pekerjaan baru. Awalnya ia berpikir akan menjadi petualangan seru, negara baru, bahasa baru, dan teman baru. Tapi kenyataannya, setiap langkahnya di sekolah terasa seperti ujian. Bukan hanya soal pelajaran, tapi juga soal hati.

        “Hey scarf girl!” seru seseorang dari belakang.
Salma terdiam. Ia sudah hafal suara itu. Chloe dan dua kawannya mendekat, tawa mengejek mereka menusuk telinga.

        “Apa kau menyembunyikan bom di sana?” Chloe menunjuk hijab Salma, tawa kecil menyusul. Beberapa siswa lain menoleh, ada yang ikut tertawa, ada pula yang pura-pura tak melihat.

        Salma menarik napas panjang, menunduk, melangkah. Ia tahu melawan hanya akan memperparah. Tapi sesak di dadanya tak bisa dipungkiri lagi. Kata-kata mereka menempel lebih lama dari dinginnya udara.

        Di kelas, ia duduk di pojok, membuka buku catatan. Guru menjelaskan pelajaran sejarah, sementara pikirannya melayang. Kenapa mereka membenciku? Aku hanya berbeda pakaian. Aku hanya ingin belajar.

        Bel tanda istirahat berbunyi. Salma berjalan ke kantin, membawa bekal yang ibunya siapkan, nasi dan ayam kari. Begitu membuka kotak bekal, aroma rempah memenuhi udara. Teman sebangkunya, Emily, menoleh sambil tersenyum kecil.

        “Baunya enak,” katanya pelan.
Salma terkejut. Jarang ada yang menyapanya dengan ramah. “Kau mau coba?” tanyanya hati-hati.
Emily ragu sejenak, lalu menggeleng. “Mungkin lain kali.”

        Percakapan singkat itu cukup untuk menghangatkan hati Salma. Setidaknya tidak semua orang menolak aku, pikirnya.

        Malamnya, di kamar kecil apartemen, Salma duduk bersila di atas sajadah. Air mata menetes tanpa bisa ia tahan.

        “Ya Allah… aku lelah. Aku hanya ingin diterima. Tapi mengapa semuanya terasa berat?” bisiknya dalam doa.

        Ayahnya mengetuk pintu. “Salma, sudah makan malam?”
“Sudah, Yah.”
“Bertahanlah, Nak. Ingat, kita tidak bisa mengendalikan apa yang orang lakukan. Yang bisa kita kendalikan adalah bagaimana kita merespons.”

        Kata-kata itu sederhana, tapi menusuk hati Salma. Ia mengangguk, meski air mata masih mengalir kemudian ibunya datang memberikan pelukan untuk menguatkan Salma.

        Hari berikutnya, cobaan datang lagi. Saat pelajaran olahraga, mereka harus berlari di lapangan. Salma tetap memakai kerudung olahraga. Saat ia sedang berlari, seorang anak lelaki sengaja menarik ujung kerudungnya. Hampir terlepas.

        “Lepaskan itu! Kau akan berlari lebih cepat tanpa kain aneh itu,” ejeknya.
Tawa terdengar lagi. Salma berhenti, jantungnya berdetak kencang. Ada rasa ingin marah, ingin menjerit. Tapi yang ia lakukan hanya menarik kembali kerudungnya, memperbaiki simpulnya, lalu melanjutkan lari.

        Diamnya justru membuat mereka bingung.
“Kenapa dia nggak marah?” bisik seseorang.
Salma mendengar, tapi ia memilih fokus. Aku tidak bisa mengendalikan mulut mereka, tapi aku bisa mengendalikan diriku.

        Hari demi hari, ia mulai belajar tersenyum meski disakiti. Ia menulis di buku harian:

        “Hari ini mereka menertawakan aku lagi. Tapi aku memutuskan untuk tidak menangis. Aku ingin jadi pohon yang tetap berdiri meski badai menghantam.”

        Emily, teman sebangkunya, semakin sering mengajak bicara. Kadang hanya soal PR, kadang soal film. Tapi itu sudah cukup membuat Salma merasa sedikit tidak sendirian.

        Suatu sore, Chloe kembali berusaha menghinanya di depan banyak orang.
“Kenapa kau tetap memakai itu? Bukankah lebih mudah kalau kau lepas saja? Tidak ada yang akan mengejekmu lagi.”

        Salma menatap Chloe. Untuk pertama kalinya, ia menjawab dengan tenang, "Aku memakai ini bukan untuk mereka. Ini bagian dari diriku, dan aku bahagia mengenakannya.”

        Keheningan sesaat tercipta. Beberapa siswa menunduk, tak lagi tertawa. Bahkan Chloe tampak kehabisan kata bahkan cela untuk untuk menghina Salma tapi yang dilakukan Salma hanya membalas dengan senyuman dan sedikit bicara.

        Malam itu, Salma kembali bersujud. Air matanya jatuh, tapi kali ini bukan karena sakit. Melainkan karena rasa syukur bahwa ia mulai menemukan kekuatannya sendiri.

        Hari berganti minggu. Bullying tak sepenuhnya berhenti, tapi perlahan berkurang. Orang-orang mulai menyadari, tak peduli seberapa keras mereka mencoba, Salma tetap tersenyum. Ia tetap berdiri.

        “Salma! Bisa kau ajari aku materi tadi? Aku masih belum mengerti.” Ucap Alex teman sekelasnya, Salma mengangguk dan mulai belajar bersama Alex juga teman-temannya yang lain. Mungkin tidak semua orang menerimanya tapi dia tak memperdulikan lagi, dia tetap dengan identitas nya dan hidup sebagai muslimah walaupun minoritas.

        Dan di balik senyumnya, ada doa yang selalu ia panjatkan:
“Ya Allah, kuatkan aku untuk tetap menjadi hamba-Mu, meski dunia mencoba menjatuhkan.”

        Saat itu Salma berjalan pulang di sore hari sehabis menyelesaikan semua kegiatan sekolahnya, tiba-tiba seseorang mendorongnya hingga terjatuh.

        “Ups! Aku tak sengaja! Jujur saja aku benci kau! Aku benci melihatmu tersenyum dan terlihat sok kuat.” Cerca Chloe sembari meninggalkan Salma yang masih bersimpuh di jalanan.  

        Gadis rambut pirang itu melenggang begitu saja meninggalkan banyak pertanyaan di kepala Salma, “Kenapa dia begitu membenci ku?”

        Salma meringis merasakan lututnya yang terasa sakit, perlahan dia bangkit dan melanjutkan perjalanan pulang dengan langkah tertatih.

        Sesampainya di rumah sang ibu yang melihat luka di lututnya merasa amat kasihan padanya. “Mungkin lebih baik kita pulang ke Indonesia saja.” Ucap sang ibu sembari mengobati luka di kedua lututnya.

        “Ibu... Salma baik-baik saja, ini hanya luka kecil.”

        Ibu Salma tak kuasa menahan tangis lalu memeluk Salma dengan erat. Seolah mengatakan lewat sentuhan untuk menguatkan anaknya.

        “Ibu sendiri yang bilang kan, bahwa masalah harus kita hadapi,” ucap Salma dengan senyum manisnya.

        Pagi itu, seperti biasanya Salma datang ke sekolah dan memulai hari dengan senyumannya namun ada yang tak biasa. Chloe dia tak mengganggu Salma hari itu, gadis itu hanya memberikan tatapan dingin yang tak dimengerti oleh Salma hingga Emily berkata, “Aku tahu Chloe jahat padamu tapi dia juga sebenarnya korban dari diskriminasi walaupun bukan dia yang di diskriminasi secara langsung tapi ibunya—”

        Salma terdiam mendengar cerita Emily, sesak sempat menguasai dadanya kala itu. Pantas dia tak bisa membenci Chloe walaupun tindakannya begitu menyakitkan namun terkadang yang terbelit dipikiran Salma adalah tentang apa dan mengapa Chloe bersikap seperti itu.

        Setelah hari itu Chloe menghilang, orang-orang tak tahu kabarnya dan Salma juga bingung sampai beberapa orang berspekulasi Chloe mungkin hilang karena akibat perbuatannya kepada Salma. Emily terang-terangan menentang orang yang membicarakan hal buruk tentang Salma. “Jangan asal bicara kalian!”

        Beberapa waktu berlalu musim pun ikut berganti. Disini Salma duduk sembari mengadakan tangan berdoa di sebuah masjid kecil, matanya berkaca-kaca tiba-tiba ada suara langkah kaki yang mendekatinya dari belakang.

        Salma menoleh ke arah asal suara, Chloe gadis itu berdiri tak jauh dibelakangnya dengan mata sembab.

        “Kalau Tuhanmu bisa menerima semua air matamu… apa mungkin Dia juga mau menerima air mataku?”

Komentar

Memuat komentar...