Serambi Masjid
Sumber: cerpen
“Ya Allah, kenapa Engkau menolak sembahku? Tak adakah tempat bagi sujudku di hadapan-Mu. Aku memang pendosa, tapi apakah aku tidak boleh bertobat kepada-Mu?”
Marni mendandani jasadnya secara khusus. Tiba-tiba angin berdesir masuk lewat jendela menerjang rambutnya. Bintang-bintang tertawa di atas ubun-ubunnya. Ia kenakan rok panjang sampai menutup ujung kedua kakinya. Ia tutup rambutnya dengan jilbab yang baru ia beli di Pasar Legi. Aroma bunga kamboja menebar di sekujur tubuhnya.
“Aku ingin Tuhan mengawiniku saat ini juga,” katanya.
Marni mengolesi bibirnya dengan lipstik merah delima di depan cermin, lantas membalikkan jasadnya dan melangkah dengan penuh gairah ke masjid. “Kapan lagi aku bisa masuk ke masjid sendirian malam-malam kalau tidak sekarang juga. Tuhan toh bukan hanya milik mereka para laki-laki. Tuhan juga milik wanita. Juga milik PSK seperti aku”, katanya pada angin yang selalu berbisik, tembok bisu, dan rumput-rumput dipinggir jalan.
Bintang-bintang terus tertawa di ubun-ubunnya, cekakaan, seperti Tuhan dalam bayangannya yang terus tertawa sejak bapak tirinya gagal memperkosanya, sebulan setelah ibunya meninggal karena kecelakaan. “Kamu jangan sok suci! Kamu anak jalan, tahu?” bentak bapaknya. Sebuah bentakan yang kemudian seperti terekam di dalam kepalanya dan diputar berulang-ulang sepanjang hidupnya, bahkan tiap detik diucapkan oleh benda-benda di sekelilingnya: atap, tembok, tiang, rumput, pohon, pagar, kursi dan pohon-pohonan. Sebuah bentakan yang dengan kekuatan aneh menyeretnya ke kamar-kamar hotel, panti pijat dan kelab malam kota Mojokerto.
Bintang-bintang terus tertawa di ubun-ubunya. Angin makin keras menerjang jasadnya. Marni tak peduli. Ia telah bertekad bulat menemui Tuhan di masjid malam itu juga setelah berkali-kali gagal menemui-Nya di kamarnya sendiri.
“Aku sungguh rindu pada- Mu. Tapi kenapa Engkau selalu menolakku. Kenapa Engkau buat seluruh jasadku menolak bersujud pada-Mu,” keluh Marni sambil mengutuk kentut kecil yang membuyarkan sembahyangnya.
Sudah berhari-hari Marni berusaha dengan sungguh-sungguh menundukkan seluruh jiwa dan raganya, sejak suatu kekuatan aneh tiba-tiba membangkitkan kerinduannya yang dalam pada Sang Maha Ghaib yang tiba-tiba–tanpa ia ketahui secara pasti apa sebabnya – hidup di dalam dirinya. Tapi selalu ada bagian dari dirinya yang menolak untuk menyerah total pada-Nya. Diambil air wudhu, diangkatnya kedua telapak tangannya dalam takbiratul ikhram. Tapi tak sepatah kata pun dari niat salatnya bergetar dalam jiwanya. Uhsalli-nya seperti hanya tergetar di kedua katup bibirnya.
Marni mengulang lagi takbirnya sampai lima kali, kemudian membaca doa iftitah seperti diajarkan guru ngajinya ketika kecil di kampungnya. Tapi hatinya tetap tak mau diajak menggetarkan doa itu. Ia lantas ragu-ragu, termangu di tengah doa iftitah: meneruskan sembahyangnya atau membatalkannya. Tiba-tiba kedua tangannya yang sudah bersedekap terkulai lurus dan terjuntai ke bawah seperti pelepah kurma yang patah pada pangkalnya. Ia pun membatalkan sembahyangnya, mengulang takbiratul ikhram sampai berkali-kali. Kemudian dengan suara keras demi melawan rasa was-was hatinya ia membaca doa iftitah: Allahu akbar kabiro walhamdulillahi katsiro… Tapi tiba-tiba lagu dangdut menerobos masuk dari kamar tetangganya, menyerang kedua telinganya dan membanjiri kolam hantinya: yang ayo goyang yang… Hati Marni pun ikut bergoyang, seluruh jerohannya bergoyang, tulang- tulangnya, sum-sumnya, dan seluruh syarafnya bergoyang. Marni menari-nari di atas sejadahnya. Keringat menguncur di seluruh tubuhnya. Lagu-lagu pop dangdut terus mengalir, berganti rock dangdut yang lebih panas. Tiba-tiba radio tentangganya mati. Marni terpuruk kelelahan di atas lantai. “Ya Tuhan, kenapa Engkau menolak sembahku? Tak adakah tempat bagi sujudku di hadapan-Mu. Aku memang pendosa, tapi apakah aku tidak boleh bertobat kepada-Mu?” Marni memelototi tembok kosong di depannya, kesal dan marah pada dirinya sendiri.
Marni berwudhu lagi, sembahyang lagi, gagal lagi, berwudhu lagi, sembahyang lagi, gagal lagi, sampai luluh lantak seluruh kekuatan jiwa dan raganya, sampai tubunya lunglai menggelosor tertidur di lantai. Dengan semangat Marni berwudhu lagi, memcoba bersembahyang lagi dengan khusuk. Tapi gagal lagi. Berkali-kali, kentut kecil yang tak jelas sebabnya, terpompa dari perutnya. Ia mencoba lagi, gagal lagi, mencoba lagi, gagal lagi, sampai Marni berkata, “Ya Tuhan, barangkali kamar ini memang sudah penuh dengan setan sehingga Kau tak mau tidur di sini, walau kusebut nama-Mu berjuta kali!” Marni seperti melampiaskan kemarahan pada dirinya sendiri.
***
Marni terus melangkah, tak peduli pada tukang-tukang becak langganannya yang terkejut melihat keanehannya. Dalam hatinya kini tidak saja ia ingin menjumpai Tuhan agar “mengawini”-nya saja. Dalam pikirannya, dalam keremukredamannya kini, tak ada lagi yang sanggup mencintainya kecuali Sang Maha Ghaib yang tiba-tiba merebut seluruh rindu-dendamnya. Ia akan memohon pada-Nya agar menjadikannya sebagai Maryam yang tanpa digauli oleh siapapun bisa mengandung Isa. “
Tuhan, tumbuhkanlah di rahimku seorang lelaki penyelamat dunia yang makin gila ini,” katanya pada bintang-bintang yang terus tertawa di ubun-ubunnya.
Marni melangkahkan kakinya melewati halaman masjid yang sangat luas seperti lapangan sepak bola, berwudu di sudut kanan serambi masjid, melewati serambi yang berlantai mengkilap, menuju ke pintu utama masjid dan mencoba membukanya. Tapi sudah dikunci rapat. “Tuhan, bukakan pintu untukku!”teriaknya.
Marni mundur beberapa langkah, dipandanginya pintu itu dari ujung atas hingga ujung bawah, dari tepi kanan hingga tepi kiri. Tiba-tiba ia ingat dongeng Alibaba yang pernah ia tonton di televisi. Ia pun menggosok-gosokkan telapak tangan kanannya ke telapak tangan kirinya sambil mengatakan ,“Sim…salabiim!” Teriaknya tiba-tiba. Ia ulang teriakannya sampai tiga kali. Tapi sang pintu tetap tertutup baginya. “Ya Tuhan, kenapa engkau juga menolakku di rumah-Mu yang megah ini. apakah diriku terlalu kotor untuk berhadapan dengan Engkau? Aku yakin, soal membuka pintu amatlah sepele bagi-Mu. Tapi kenapa engkau tak mau membukakan untukku? Apakah Engkau tak mau menerima tobatku? Sia- sialah kerinduanku pada-Mu jika begitu!”
Marni mundur beberap langkah lagi dan berkata, “Ya Tuhan, maafkanlah hambamu ini. Barangkali Engkau suka mendengarkan aku membaca puisi. Bukankah sekarang orang-orang suka merayumu dengan puisi, puisi religius, puisi sufistik dan entah apa lagi. Tapi tolong bukakan pintu untukku. Aku sungguh rindu pada-Mu!”
Marni pun memabaca potongan puisi seorang penyair tak dikenal, yang ia sobek dari Koran-koran yang telah usai dibaca:
Kau...!!
jangan tanyakan aku tentang cahaya.. karena aku telah lupa akannya... meski aku lahir dari rahimnya..
kini hanya ada aku,
yang meringkuk di pojokan sepi.
menggulung tubuh dalam gigil sunyi,, terseok, menyapa gelap yang dulu kutakuti..
ketika aku dan ubin menjadi satu,, urat nadipun bagai sembilu.. gemetar dan ngilu..
dalam kubangan asa yang membeku.. kau lihat!!
hanya ada air mata,
yang merambah sengit pada kulit nista.. tubuh ini sesap..
melumatkan harap yang lenyap.. bisakah Kau cuci aku, Tuhan? dengan tanganMu..dengan cintaMu...
sebelum pedang itu terhunus, memintaku untuk kembali padaMu bisakah, Tuhan?
Pintu tak bergetar sedikitpun. Justru tubuh Marni yang tiba-tiba bergetar hebat menahan perasaan dasyat yang sulit dilukiskan. “Kenapa Engkau masih menolakku?!” Tak ada jawaban dari siapapun, kecuali bintang-bintang yang terus terbahak-bahak di ubun- ubunnya. Entah, apa yang sedang dilakukan dua malaikat di pundak kanan dan pundak kirinya. Hingga Marni benar-benar tercerai berai dan terpuruk lemas di lantai serambi masjid yang mengkilap itu, melepas jiwanya menembus pintu masjid.
Komentar