Gambar sampul untuk Langkah Menuju Cahaya

Sumber: cerpen

        Hujan turun deras sore itu, membasuh jalanan kota yang dipenuhi cahaya lampu. Di sebuah kafe kecil yang dipenuhi aroma kopi dan asap rokok, terdengar dentuman musik keras berpadu dengan tawa pemuda yang larut dalam dunia mereka sendiri. Di pojok ruangan, duduk seorang pria bernama Raka, 24 tahun, bertubuh tinggi dengan tato menjalar di lengannya. Matanya tajam, wajahnya dingin, ia pemimpin kecil di lingkaran pergaulannya.

        “Bro, order lagi dong, kopi sama rokok gue udah habis!” seru Raka, menepuk bahu Tomi, sahabat setianya dalam setiap pesta malam.

        Tomi terkekeh. “Santai, gue yang bayarin. Duit hasil balap semalem masih banyak.”

        Raka tersenyum tipis. “Hidup cuma sekali, Tom. Nikmatin selagi bisa.”

        Tawa mereka membahana, namun mendadak terputus ketika ponsel Raka bergetar. Sebuah pesan masuk, sederhana namun menghantam dadanya:

        “Mas, Mama masuk rumah sakit. Kalau bisa pulang, ya.”

        Jantung Raka serasa berhenti. Sudah berapa lama ia tak pulang? Berapa lama tak menatap wajah ibunya?

        “Kenapa, Rak?” Tomi memandang curiga.

        “Gak apa-apa,” jawabnya singkat. Jemarinya gemetar, dan untuk pertama kali rasa bersalah yang lama terkubur mulai mengetuk.

        Dua hari kemudian, hujan reda. Raka berdiri kaku di depan rumah yang dulu ia tinggalkan demi kebebasan. Cat temboknya pudar, halaman dipenuhi dedaunan. Hatinya berdegup ketika melangkah masuk.

        Di dalam, ia melihat ibunya terbaring lemah. Wajah renta itu tetap memancarkan kasih yang tak pernah luntur.

        “Mas Raka…” suara lirih itu memanggil. “Kamu pulang…”

        Air mata menetes tanpa bisa Raka tahan. Ia menggenggam tangan ibunya, merasakan tulang-tulang yang menonjol.

        “Maaf, Ma… Maaf, Mas jarang pulang,” suaranya pecah.

        Ibunya tersenyum, meski napasnya berat. “Mama cuma pengen kamu jadi orang baik, Nak. Dunia ini sebentar, jangan jauh dari Allah. Mama nggak bisa lama-lama nemenin kamu,”

        Kata-kata itu menusuk dada Raka. Semua kesombongan, semua pesta, terasa hampa. Ia pulang membawa tubuh, tapi jiwanya tercerai-berai.

        Malam itu, Raka duduk di beranda, memandang langit gelap. Suara jangkrik menyatu dengan pikirannya yang riuh. Ia teringat masa kecil, seorang bocah yang selalu diselimuti doa ibunya setiap malam.

        “Mas, kalau besar jangan lupa salat ya!” suara ibunya dulu terngiang.

        Tapi janji itu ia khianati. Saat remaja, ia mulai bolos sekolah, ikut geng jalanan, mabuk pertama kali, lalu kecanduan balapan liar. Ia ingat pertama kali pulang subuh dengan tubuh memar dan ibunya memeluknya sambil menangis.

        “Kenapa, Mas? Kenapa kamu berubah?”

        Kenangan itu menghantam keras. Air matanya jatuh. “Kenapa gue tega sama dia?” bisiknya lirih.

        Ponselnya bergetar. Grup pertemanan ramai mengajak keluar. “Rak, ada event besar malam ini. Jangan ngilang!”

        Jarinya berhenti di atas layar. Dadanya sesak. “Apa gue harus balik lagi ke dunia itu?” gumamnya.

        Saat itu, azan Isya berkumandang dari masjid kecil dekat rumah. Suara itu begitu meresap, seakan memanggilnya pulang. Lama ia tak mendengarnya dengan hati terbuka.

        Tanpa pikir panjang, Raka berdiri. Kakinya melangkah menuju masjid, langkah yang terasa asing tapi menenangkan.

        Masjid itu sepi. Hanya ada seorang pria tua yang merapikan sajadah.

        “Assalamu’alaikum,” sapa Raka pelan.

        “Wa’alaikumussalam. Mau salat, Nak?” Pria itu tersenyum ramah.

        Raka mengangguk. Ia belajar wudu lagi, tangannya gemetar. Saat berdiri menghadap kiblat, dadanya bergetar hebat. Air mata jatuh tanpa ia cegah. Setiap gerakan, setiap bacaan, seakan memecahkan tembok keras yang selama ini ia bangun.

        Selesai salat, pria tua itu duduk di sampingnya. “Sudah lama tidak ke masjid, ya?”

        “Iya, Pak.” suara Raka serak. “Saya banyak salah.” Lanjut Raka.

        “Allah Maha Pengampun,” jawab pria itu lembut. “Selama kamu mau kembali, pintu itu tidak pernah tertutup.”

        Kata-kata itu menyalakan api kecil di hati Raka. Untuk pertama kalinya, ia merasa memiliki harapan.

        Hari berganti minggu, Raka mulai rutin salat, belajar mengaji, dan merasakan damai yang dulu tak pernah ia temui. Ia juga mulai mengikuti kajian di masjid hingga berkenalan dengan seorang ustaz muda bernama Faris yang sabar membimbingnya.

        “Hijrah itu bukan berarti lo nggak diuji, Rak,” kata Faris suatu sore. “Justru ujiannya lebih berat. Tapi kalau lo kuat, pahala lo juga besar.”

        Raka mengangguk. Dalam hati ia berdoa agar dikuatkan.

        Doa itu diuji malam berikutnya. Tomi datang. Wajahnya kecewa.

        “Rak, lo kenapa? Kok ngilang? Gue sama anak-anak kangen. Ada balapan gede, duitnya banyak. Come on, lo nggak berubah kan?”

        Raka menatap sahabatnya, menahan gejolak. “Tom, gue berubah. Gue nggak bisa balik ke situ lagi.”

        Tomi tertawa sinis. “Seriusan? Lo jadi ustaz sekarang? Ini bukan lo, Rak.”

        Raka menghela napas panjang. “Ini gue yang baru, Tom. Gue udah cukup nyia-nyiain hidup. Gue pengin tenang.”

        “Lo bakal nyesel,” Tomi mendesis. “Dunia nggak seindah yang lo pikir.”

        “Gue nggak nyari dunia lagi,” suara Raka mantap. “Gue nyari Allah.”

        Mata Tomi menyipit. Malam itu mereka berpisah tanpa salam. Sebuah persahabatan retak, tapi Raka tahu, hijrah menuntut pengorbanan.

        Beberapa hari kemudian, Tomi kembali menghubungi, kali ini membawa ancaman. “Rak, kalau lo nggak ikut, lo keluar dari grup selamanya. Jangan nyesel kalau nanti lo sendirian.”

        Raka membaca pesan itu lama. Tangannya gemetar, tapi ia tak goyah. Ia menutup ponsel, lalu pergi ke masjid. Ia duduk lama, menatap sajadah, dan memohon kekuatan.

        “Ya Allah, jangan biarkan aku kembali. Jangan biarkan aku kalah,” bisiknya dalam sujud.

        Faris datang menghampiri. “Lo kuat, Rak. Kalau lo ikhlas, Allah ganti semua yang lo tinggalin dengan yang lebih baik.”

        Raka tersenyum tipis. “Gue cuma pengen tenang, Ustaz.”

        “Dan itu lo dapet kalau lo terus di jalan ini,” jawab Faris mantap.

        Bulan berlalu. Ibu Raka berangsur pulih, meski tubuhnya masih lemah. Ia menangis bahagia melihat perubahan anaknya.

        “Mama bangga sama kamu, Nak,” ucapnya sambil memeluk Raka. “Terus jaga hati, ya.”

        “Insya Allah, Ma. Doain Mas kuat,” jawab Raka, suaranya penuh tekad.

        Hari-hari Raka kini dipenuhi aktivitas positif. Ia bekerja halal, membantu masjid, bahkan mencoba menarik teman-teman lamanya ke jalan yang sama. Sebagian menolak, tapi ada satu pesan mengejutkan yang datang pada suatu malam.

        “Rak… boleh kita ketemu? Gue pengin ngobrol.” Dari Tomi.

        Raka terdiam, hatinya bergetar. Apakah ini pertanda sahabatnya mulai luluh?

        Ia tersenyum. Dalam sujud malam itu, ia berdoa lebih lama.

        “Ya Allah, jangan biarkan aku kembali ke jalan yang salah. Jadikan hijrah ini istiqamah. Dan bimbing juga orang-orang yang aku sayang.”

        Ia tahu, jalan ini panjang. Tapi ia sudah melangkah menuju cahaya, dan kali ini, ia tidak ingin berpaling lagi.

Komentar

Memuat komentar...