Gambar sampul untuk Putaran Pembawa Petaka

Sumber: cerpen

        Cakrawala di penuhi petir nan awan abu yang menghalangi cahaya alam semesta. Hujan serta petir, terus-terusan menemani kota malam yang sibuk. Membuat suasana menjadi sangat dingin takala udara yang terus menusuk kulit.

        Pada sebuah kamar di pojok rumah, Danan tengah sibuk menatap angka yang berganti-ganti. Hatinya berdebar tatkala ia mengirim sejumlah uang yang lebih banyak pada aplikasi judi diponselnya. Ya, Judi. Setiap putaran, setiap angka. Selalu membuatnya senang, walaupun terkadang juga frustasi karena nominal yang ia dapat hanya sedikit. Namun, itu tak cukup untuk membuatnya berhenti mengirim sejumlah besar jerih payahnya setiap hari. Bibir Danan mengeluarkan decakan kesal, setelah mendengar sebuah ketukan berulang dari pintu kamarnya. Dengan rasa kesal yang memuncak, ia bangkit dari ranjang lalu membuka pintu kamar. Menatap pelaku yang telah mengganggu aktivitasnya. “Heh! Bisa diem gak?”

        Gadis itu menarik nafasnya. Matanya melirik ke arah ponsel dengan layar yang masih menyala. “Loh, Abang masih main judi? Kan kata ibu, Allah ngelarang kita main judi. Haram!”

        “Hah? Terserah gue lah, kok ngatur?”

        “Ih, Abang! Dari kemarin Ara minta beliin obat, soalnya obat Ara sudah habis. Tapi malah uang Abang di pake buat judi terus!” keluh Ara sambil menunjuk-nunjuk ponsel Danan.

        “Ngapain Abang ngurusin cewe penyakitan kayak lo?” cibir Danan. “Mending gue pakai sendiri aja.”

        Deg— Jantung Ara berdegup kencang setelah cibiran sang kakak keluar dari bibirnya. Bagaimana bisa dengan entengnya pemuda itu mengatakannya? Dimana letak hati yang selalu menyayanginya sejak kecil? Ada yang baru saja Ara sadari. Danan berubah total. “Abang jangan bilang kayak gitu…” lirih Ara, nafasnya sedikit tersenggal. Sial, asmanya sepertinya kambuh.

        “Ya… gimana ya? Kenyataannya memang begitu.” Danan mengatakannya dengan acuh tak acuh. Bahunya terangkat, mata serta jari-jarinya kembali sibuk dengan ponselnya, tak peduli dengan penyakit sang adik yang mulai muncul.

        Melihat sang kakak yang mengacuhkannya, membuat dadanya semakin sesak daripada biasanya. Ara harus berhenti melakukan ini, atau mereka akan hancur secara perlahan! Walaupun ragu menghalangi, tangan Ara berhasil merebut ponsel Danan dengan cepat, lalu menyembunyikannya di belakang tubuhnya. “Abang berhenti!”

        Danan menatap Ara dengan tajam ketika gadis itu lagi-lagi mengganggunya. Pemuda itu maju selangkah, tangannya mencengkram kedua bahu sang adik dengan keras, membuat sang empu meringis kesakitan. “Lo kurang ajar, ya?!”

        Danan meraih ponsel itu, merebutnya dengan paksa. Namun gadis itu tetap berusaha agar saudaranya tak berhasil mengambilnya, walaupun akhirnya sang empu berhasil mendapatkannya kembali. “Abang, dengerin Ara dulu,” pinta Ara pada Danan yang kini menatapnya dengan tak suka karena telah merampas benda yang bukan miliknya.

        “Percuma dengerin kamu,” ujarnya. Jari-jarinya kembali mengetuk layar dengan angka yang terus kian berganti-ganti.

        Ara maju selangkah. Namun tanpa aba-aba, rasa sesak di dadanya kian memuncak. Tenggorokannya tercekat, untuk berbicara saja rasanya susah. Danan melirik dari layar ponselnya, lagi-lagi sebuah decakan lolos dari bibirnya. “Yaudah, gue keluar dulu beli obat. Ara tunggu Abang, ya.” Danan mematikan layar ponselnya lalu menaruhnya di dalam saku jaketnya.

        Danan pergi meninggalkan ruangan itu, beserta gadis dengan sesak nafas yang menyerangnya itu. Pintu depan terbuka, hujan serta petir tetap setia menemani cakrawala malam itu. Danan memakaikan helm sehingga menutupi kepala serta wajahnya. Lalu menancap gas motornya, menuju warung di mana biasanya Ara membeli obat.

        ***

        Danan memarkirkan motornya tatkala ia sampai di depan warung. Seorang pria dengan sarung wadimor terpasang di pinggangnya, serta kumis yang melekat pada wajahnya, keluar dari warung itu untuk sekedar menyambut pembeli yang datang. “Tumben, Dan. Hujan-hujan gini keluar rumah. Kenapa nih?”

        “Anu ini, Inhaler Ara sudah habis. Jadi saya mau beli, Pak.”

        “Eh, inhaler?” pria itu mencari-cari pada rak-rak yang ada di sana. Namun sayang, ia tak menemukannya. “Maaf ya, Dan. Inhalernya sudah habis.”

        “Mungkin di Apotek masih ada. Coba Danan ke sana,” tambah pria itu. Memberi saran pada pemuda di depannya.

        “Apotek?...” gumam Danan lirih. Ia tahu, Apotek adalah satu-satunya tempat tersisa yang bisa ia tuju. Namun di sisi lain, sebuah alasan melarangnya untuk pergi ke sana. Tak lama kemudian, tangan besar menepuk bahunya. Membuyarkan pikirannya.

        “Kok diem, Dan?” tanya pria itu. “Ayo cepat ke Apotek, Ara pasti udah nunggu di rumah,” tambah pria itu.

        Danan terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk. Ia memakaikan helm nya kembali ke kepalanya, lalu naik ke atas motor kesayangannya. “Saya pergi dulu ya, Pak.”

        “Iya, iya. Hati-hati ya, Dan. Jalanan licin,” titah pria itu.

        “Oke, Pak.” Danan menancap gas motornya menuju Apotek yang tak terlalu jauh dari tempatnya berada.

        ***

        Petir mulai mereda, namun tidak dengan hujan. Rintik hujan terus mengguyur kota itu, membuat jalanan menjadi sangat licin. Jalanan terlihat sangat sepi, mungkin karena orang-orang begitu malas untuk keluar rumah saat hujan datang. Angin berhembus cukup kencang kala itu, membuat Danan mengencangkan jaketnya pada tubuhnya walaupun itu tak cukup menghangatkannya.

        Sebuah tembok dengan cat berwarna putih, mulai terlihat dari kejauhan. Danan mengencangkan gasnya, sampai pada akhirnya ia sampai di depan halaman Apotek itu. Danan memarkirkan motornya, lalu turun dan berjalan menuju pintu masuk. Danan menyentuh gagang pintu, jantungnya berdegup kencang. Mungkin sekarang ia terlihat seperti orang aneh, hanya untuk masuk saja ia terlihat ketakutan. Namun sebelum akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka pintu, suara seorang wanita berteriak dengan lantang memanggil namanya.

        “Danan!”

        Danan tersentak kaget. Sial, kenapa harus wanita itu berada di sini sekarang? “Ah… Bu Erin,” kata Danan dengan suara sedikit bergetar. Tangannya menggaruk lehernya yang sama sekali tak gatal. Perasaan Danan saat ini, antara gugup atau takut.

        “Kenapa kamu ke sini lagi? Mau hutang?” tanya Erin tanpa basa-basi. Kali ini, wanita itu menatap Danan dengan sangat tajam, berbeda dengan biasanya saat ia menyapa pelanggannya.

        “Saya mau—”

        “Mau apa, hah?!” potong wanita itu. “Kamu jangan pura-pura pikun, ya! Kamu kira saya ngizinin kamu buat masuk ke Apotek saya? Kamu lupa sama hutang? Gara-gara keluarga kamu ya, bisnis saya itu jadi bangkrut!”

        Danan mematung. Ia bingung harus melakukan apa untuk meredakan ketegangan ini. “Iya, Bu. Saya bakal usahain ngelunasin hutang keluarga saya. Tapi saya mohon, Bu. Adik saya butuh obat. Jadi tolong izinin saya buat beli obat di sini ya, Bu,” pinta pemuda itu pada wanita di depannya.

        “Tidak bisa!” jawab Erin dengan bentakan, tak peduli dengan beberapa orang yang melewatinya.

        “Tapi—”

        “Gak ada tapi-tapian. Sekarang kamu pergi dari Apotek saya! Jika kamu sudah punya uang, kamu boleh kembali lagi ke sini,” tegas wanita itu. Ia benar-benar tak ingin memberi celah pada Danan. Wanita itu benar-benar trauma akan keserakahan pada keluarga pemuda itu yang membuat bisnisnya hancur.

        “Bu—”

        Wanita itu masuk ke dalam Apotek, lalu menutup pintu dengan keras nan rapat. Membiarkan Danan yang berdiri dengan kebinguan. Ia menghela nafas panjang. Satu-satunya jalan yang tersisa, kini menolaknya mentah-mentah. Dengan langkah yang kian berat, Danan pergi menginjakan kakinya pergi dari bangunan itu.

        ***

        “Ara, Abang pulang.”

        Danan membuka pintu rumahnya yang tak terkunci. Kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan yang anehnya sunyi, tidak seperti biasanya. Danan memeriksa dapur, tak ada siapapun. Danan beralih menuju lantai atas, di mana kamar sang adik berada. Danan berdiri di depan pintu kamar itu, mengetuknya beberapa kali. Namun tak ada jawaban sama sekali dari dalam.

        “Ara…” Danan membuka pintu itu. Kamar itu terlihat sangat gelap. Tapi anehnya, terlihat samar sebuah pecahan gelas kaca yang berserakan di lantai. Melihat hal itu, Danan langsung menyalakan saklar. Mata Danan membulat sempurna, setelah ia melihat tubuh gadis itu tergeletak tak bergerak di lantai. Danan duduk di sebelahnya. Menggoyang-goyangkan tubuh itu, berharap bahwa Ara hanya tertidur. Tapi sayang, keluarga satu-satunya kini telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. “Ara… maafin Abang… Abang janji kali ini, Abang bakalan berubah.” Danan berusaha menahan isaknya. Ia memeluk erat tubuh sang adik dalam dekapannya. Ia bersunggung-sungguh, akan merubah dirinya. Ia akan meninggalkan yang menyesatkannya. Yaitu, putaran pembawa petaka.

Komentar

Memuat komentar...