Metafora Jas Putih
Sumber: cerpen
Siapa sangka, orang yang dipercaya membantu menyembuhkan justru sedang sekarat oleh dosanya sendiri. Malam ini, lampu berkelip bagai mata yang terkantuk. Cahayanya tak memberi hangat, tak pula mendamaikan, bagi seorang pria berjas kusut yang melangkah gontai, menenteng stetoskop sambil mencari pegangan agar tubuhnya tak ambruk. Pusing—itulah yang menguasai kepalanya. Beberapa pasang mata memperhatikannya, namun mereka tak berani bertanya apa yang terjadi pada pria itu. Bukan karena Dokter itu mengidap penyakit, melainkan sisa alkohol tadi sore masih mengalir di tubuhnya. Dia menyandarkan punggungnya sembari berusaha mengatur napasnya agar tak terlalu cepat.
"Dokter Muda yang sempurna", label yang diberikan kepadanya berdasarkan sudut pandang orang lain. Zafran Radhana, menyembunyikan sisi lain dunianya di balik saku jas putih yang kontras. Dirinya mengakui jika orang-orang terlalu hiperbola mengenai dirinya. Ketika terdiam, gawainya bergetar, sembilan notifikasi mengalihkan perhatian Zafran. "Saldo hampir habis? Deposit sekarang, bonus 20% menanti!" Gawainya kembali bergetar. "Top up sekarang, dapat free spin tambahan! Jangan berhenti sekarang, keberuntunganmu sudah dekat!" Begitulah beberapa notifikasi yang Zafran baca. Tangannya menggenggam gawai lebih kuat, matanya bergantian memandang stetoskop dan gawai di kedua tangannya dengan pikiran yang berkecamuk. Enam puluh juta yang malang. Judi online bukan satu-satunya cara agar uangnya terpakai, Zafran termasuk individu dengan konsumerisme digital yang tinggi.
Pukul 00.00, Zafran mematikan gawainya sembari melangkah menuju ruang rawat inap penyakit dalam nomor 107. Aroma antiseptik menyeruak menyapa penciumannya, pandangannya berputar memperhatikan alat-alat medis yang ada. Sebagai Dokter Muda, tugas utamanya malam itu bukan mengambil keputusan yang begitu besar mengenai kondisi pasien, melainkan memantau pasien rawat inap terutama pada pasien yang kondisinya tidak stabil. Saat ini Zafran menjalani COAS, Pendidikan Profesi Kedokteran. Dia memeriksa tekanan darah, nadi, memantau cairan infus, serta sesekali mencatat keluhan pasien pada rekam medis.
"Belum pulang, Dok?" Suara laki-laki berselimut putih menarik perhatian Zafran, dilihatnya dengan seksama apa yang dia lakukan. "Saya haus, makanya bangun."
"Belum Pak, shift malam," jawabnya sembari mendekat ke ranjang untuk membantu menuangkan air pada gelas, lantas memberikannya kepada pasien. "Pak Shalih minumnya masih dibatasi ya, jadi satu gelas saja dulu."
"Siap terima kasih Dok, maaf merepotkan malam-malam," ucapnya sembari tersenyum. Shalih sudah cukup sering bertemu dengan Zafran, hari ini merupakan hari ke tiga dirawat di ruang penyakit dalam. Shalih menderita gagal ginjal kronis sehingga mengharuskannya menjalani hemodialisis atau cuci darah sebanyak dua kali dalam seminggu. Biasanya Shalih rutin rawat jalan untuk menjalani hemodialisis, namun akhir-akhir ini kondisinya cukup menurun sehingga memerlukan pemantauan di rumah sakit.
"Tidak apa-apa, Pak. Jika sudah bisa istirahat lagi ya, saya akan terus memantau cairan bapak." Zafran tersenyum, hendak mengembalikan gelas ke atas nakas namun berhenti melihat tangannya bergetar. Dia sadar Shalih memperhatikan itu, dengan segera gelas itu dia simpan lalu berdeham untuk mencairkan suasana sekaligus menutupi kondisi kesehatannya dari Shalih.
"Saya ke pasien lain dulu ya Pak," Zafran berbalik meninggalkan Shalih, kemudian terhenti karena lagi-lagi Shalih bertanya kepadanya.
"Saya mau bertanya Dok," ucap Shalih sedikit lebih keras. Dia harap Dokter Muda itu mau berbincang dengannya meskipun sebentar, wajahnya tetap tenang meskipun Zafran menatapnya dengan sorot yang berbeda dari biasanya. "Saya ini, akan hidup lebih lama atau tinggal menunggu waktu?"
Zafran terdiam, dia tidak ingin membuat pasiennya terlalu khawatir, namun sebagai seorang Dokter harus tetap objektif dan mengatakan kondisi tubuh pasien yang sebenarnya. Zafran menyugar rambutnya ke belakang, "Sejauh ini kondisi Bapak lebih stabil meskipun fungsi ginjal tidak bisa kembali seperti semula. Akan tetapi dengan hemodialisis secara rutin juga menjaga pola makan, Bapak masih bisa beraktivitas dan menikmati hidup."
"Begitu ya Dok. Dulu saya pernah menanyakan hal yang sama kepada seorang Dokter. Jawabannya selalu buat saya punya harapan," ucap Shalih tersenyum getir.
Zafran memicingkan mata. "Tentang kondisi Bapak?" dia terdiam usai Pak Shalih menggelengkan kepala. "Lalu siapa? Orang yang dekat dengan Bapak?"
"Istri saya. Dia dirawat di Rumah Sakit yang sama dengan saya," ucapnya. "Disini, karena infeksi paru-paru. Cukup lama saya menunggu istri saya sembuh, rutin berobat jalan namun akhirnya tetap rawat inap."
Zafran terpaku, menunggu kalimat selanjutnya yang akan Shalih katakan. Dia tahu betul, yang dimaksud oleh Shalih adalah pneumonia, infeksi paru-paru akibat virus atau mikroorganisme lain. Dia tidak langsung menanggapi Shalih, namun tetap menghadirkan diri secara terapeutik di sana. Shalih kembali berbicara, "Saya menyalahkan istri saya karena dia sakit. Batuk keras yang lama dan selalu mengganggu tidur saya, mengeluh sakit dada, dan bikin saya risi. Saya nanya ke Dokter itu dengan pertanyaan serupa seperti barusan."
Zafran terdiam, membuka kembali komputer yang ada di samping tempat tidur Shalih untuk mengecek hasil pengkajian Perawat, status keluarganya. Di sana, terdapat keterangan bahwa istrinya ... sudah meninggal. Dia menatap lekat lawan bicaranya, sudah mulai paham maksud Shalih mengatakan itu. "Lalu, setelah itu apa yang Bapak lakukan?" tanya Zafran.
Shalih terdiam, dia memalingkan wajahnya. "Saya bertanya, 'sebetulnya penyebabnya apa Dok?' lalu Dokter itu menatap saya." Shalih berdeham kemudian mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Asap rokok. Saya yang membuat istri saya meninggal."
Bagai disambar petir, Zafran terbungkam lama setelah mendengar pengakuan Shalih. Keheningan menyelimuti ruangan itu. Zafran merasakan beban berat di dadanya, seolah pasokan oksigen berkurang. Zafran merasakan jantungnya berdegup liar. Pandangannya kabur, namun ia tetap bergegas menuju pintu, tak menggubris teriakan Shalih yang memanggilnya. Dia membuka jas putihnya dengan kasar sehingga menciptakan robekan kecil, lalu melemparkannya ke lantai. Tangannya terluka saat terbentur loker di ruang COAS, tetapi rasa perih itu ia abaikan. Tanpa pikir panjang, Zafran meraih sebungkus rokok dari loker, menyalakan sebatang, dan menghisapnya dalam-dalam. Matanya terpejam, bergelut dengan pikirannya. Asap rokok. Saya yang membuat istri saya meninggal. Pernyataan Shalih kian menari-nari di pikirannya, menciptakan amarah yang bergejolak hingga memancing Zafran untuk meremas rokok ditangannya yang masih menyala. Dia meringis merasakan telapak tangannya terbakar, membuangnya pada jas putih yang masih tergeletak. Zafran menatap jas putihnya yang kini tergeletak di lantai. Noda darah dari tangannya yang terluka bercampur dengan abu rokok, menciptakan pola yang menyerupai dosa-dosa yang selama ini ia sembunyikan. Jas yang dulu ia banggakan sebagai simbol kehormatan profesi, kini menjadi kain pembungkus kebusukan jiwanya.
Zafran mulai meneteskan air mata, tatapannya kian menajam ketika nama "Joan" muncul di layar gawainya. Dia menarik napas panjang sebelum mendekatkan gawainya ke telinga, hingga suara bass di sebrang sana menarik perhatiannya. "Masih mabuk?Sampai kapan terus permalukan Ayah, Zafran?" Zafran termenung, satu sudut bibirnya terangkat. "Sudah cukup kamu buat Istri saya meninggal. Jangan sampai saya tidak tepati janji saya untuk jaga kamu." Nada tidak bersahabat itu menohok Zafran, membuat rahang Zafran mengeras.
“Zafran gak bikin Ibu meninggal!” Selama ini Zafran sudah berusaha bertahan, meski hatinya terus terkoyak setiap kali ayahnya mengungkit hal yang sama, hari demi hari pun selalu begitu. “Zafran capek dituduh terus!”
Ayahnya membalas dengan teriakan yang tak kalah tajam. “Sadar, Zafran! Kamu itu Dokter! Kamu tahu persis ibumu mati karena asap rokok sialanmu! Dia stres punya anak pemabuk, penjudi, cuma nggak pernah bilang ke kamu. Setega itu kamu sama ibumu!" Zafran membanting gawainya, bergegas mengambil kunci mobilnya untuk pergi ke apartemen miliknya. Dia sudah tidak tahan mendengar teriakan ayahnya, rasanya begitu sesak kala mengingat Ibunya yang meninggal akibat kanker paru-paru. Hanya Zafran yang merokok di rumah, sejak SMP. Dia melesatkan kendaraannya secara ugal-ugalan, tak memikirkan nasib pengendara lain. Sesampainya di sana, Zafran membuka lemari esnya, mengeluarkan tiga minuman keras untuk dia konsumsi. Zafran diliputi rasa bersalah pada sang Ibu, dia mulai menangis, teringat pesan Ibunya sebelum meninggal dua tahun yang lalu.
"Zafran, Ibu pengajian dulu ya. Nanti tolong jemput Ibu pakai motormu aja ya. Ibu pengen ngangin ah. Oh iya! Jangan lupa shalat ashar ya Nak! Dikurangin rokoknya, nanti kamu batuk-batuk. Ibu gak mau anak Ibu sakit."
Zafran menangis tersedu-sedu, dunianya kembali runtuh tak sanggup menahan sesak. Rasa bersalah itu dia simpan selama dua tahun, menghantui setiap tidurnya. Botol-botol kosong berserakan di lantai apartemen mewahnya yang kini terasa seperti penjara berlapis kemewahan. Cermin besar di dinding memantulkan wajahnya yang pucat, mata sembab, dan jiwa yang hancur berkeping-keping. Ia menatap pantulan dirinya dengan penuh kebencian—wajah seorang pembunuh berkedok dokter. "Metafora," gumamnya dengan suara serak. "Jas putih itu...." Zafran mengingat jas yang tergeletak di ruang COAS. "... gak pantas gue pake." Suaranya bergetar, seperti menelan bara yang tak bisa padam. “Dokter harusnya menyembuhkan, tapi gue malah meracuni. Jas putih itu … bukan lambang kemuliaan lagi, tapi kain yang membungkus dosa. Bersih di luar, tapi busuk. Cuma gue yang tahu.” Zafran tak sadarkan diri usai terlalu banyak meminum Tequila. Tenggelam dengan rasa bersalah yang kian memupuk. Zafran menyadari kebejatan dirinya, namun sudah sangat terlambat untuk meminta maaf kepada sang Ibunda.
Tiga hari kemudian Zafran sudah merasa lebih baik, selama itu pula dia merasa harus menurunkan egonya. Zafran kini berada di Rumah Sakit, mengenakan jas putih kebanggaan 'Ibunya' sembari berlari seperti orang kesetanan menuju ruang 107. Code blue! Code blue! Dia segera pada posisi untuk melakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru), tangan menekan dada Pak Shalih ritmis, keras, ingin meraih kembali denyut jantung yang telah terhenti. Perawat menempelkan BVM di wajahnya—masker bening yang menyalurkan oksigen ke paru-paru. “Clear!” Defibrilator dinyalakan, elektroda menempel di dada yang dingin. Sekejap ruangan dipenuhi bunyi bip monitor, detik-detik panjang yang menggantung di udara. Listrik dilepaskan—sebuah hentakan singkat, tubuh Pak Shalih bergetar, lalu terdiam lagi. Semua mata terpaku pada layar monitor, mencari tanda kehidupan. Di ruangan itu, seakan hanya ada satu pertanyaan yang menggantung: apakah jantung Pak Shalih akan kembali berdetak … atau menyerah selamanya. "Bagaimana cara memaafkan diri sendiri dari kesalahan masa lalu Pak?" Zafran teringat mimpinya semalam, bertemu dengan Shalih.
"Pertama, akui kesalahan. Kedua, minta maaf kepada orang yang disakiti. Minta ampun kepada Allah. Terakhir, jangan diulangi." Percakapan singkat di mimpi itu diakhiri dengan senyuman dan lambaian tangan dari Shalih. Mimpi yang membuat Zafran memohon ampunan kepada Allah Swt., tergerak hatinya untuk kembali ke jalan-Nya sebelum terlambat. “Clear!” hentakan listrik kembali dilepaskan. Tubuh Pak Shalih bergetar, namun terkulai tanpa respons. Semua mata terpaku pada monitor—hanya ada garis lurus yang memanjang, disertai suara beeeep panjang menusuk telinga. Hening menelan ruangan. Tangan yang menekan dada berhenti, balon BVM terlepas dari genggaman. Monitor tak lagi berdenyut, hanya garis tipis seakan menorehkan kepastian: jantung Pak Shalih sudah berhenti untuk selamanya. Zafran tidak berhenti sampai sana, terus berusaha dengan air mata yang berjatuhan sampai seorang Perawat menepuk bahunya sambil menggeleng. Perawat itu memberikan sebuah kertas pada Zafran, dengan getir pria itu membacanya dengan air mata yang tak kuasa dia bendung.
"Dok, kembalilah kepada Allah Swt., ketahuilah bahwa taubat itu bagaikan hujan setelah kemarau panjang—menyegarkan tanah jiwa yang gersang, menumbuhkan kembali bunga-bunga kebaikan yang telah layu. Allah itu Maha Pengampun, pintu rumah-Nya tak pernah tertutup bagi hamba yang pulang dengan hati yang hancur namun tulus. "Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. An-Nisa: 17). Cucilah jas putihmu itu, bacalah Al-Qur'an di atas nakas. Kamu adalah diriku yang dulu. Selamat tinggal, Dok. Semoga Allah mengulurkan tangan-Nya untuk menarikmu dari jurang yang sama tempat aku terjatuh. Semoga cahaya hidayah-Nya menerangi jalan pulangmu. Tubuh Zafran ambruk, merangkak menuju Al-Qur'an yang Shalih berikan. "Astaghfirullohal 'azhim alladzi la ilaha illa huwal hayyul qoyyum wa atubu ilaih.”
Komentar