Gambar sampul untuk Unsubscribe

Sumber: cerpen

        Namaku Aditya Pratama, dan aku tinggal di apartemen mewah di bilangan Sudirman bersama kedua orangtuaku yang bekerja sebagai eksekutif di perusahaan multinasional. Hidup seperti ini membuatku terbiasa dengan kemewahan, tapi juga kesepian karena Papa dan Mama selalu sibuk. Sejak SMA, aku mulai aktif di media sosial, awalnya hanya iseng upload video lucu, tapi ternyata banyak yang suka. Sekarang, di usia 22 tahun, channel YouTube-ku sudah punya 2 juta subscriber dengan konten andalan prank dan social experiment yang "menguji" orang-orang biasa. Pagi ini, seperti biasa, aku cek analytics dan tersenyum melihat lima ratus ribu followers baru dalam seminggu sambil menghitung estimasi endorse bulan depan, minimal dua puluh juta rupiah. Tidak buruk untuk konten “prank solidaritas keluarga” yang aku upload kemarin.

        “Mas Adit, ada yang mau ketemu,” kata Nisa, asistenku, sambil menunjuk ke arah pintu studio tempat seorang ibu paruh baya berdiri dengan wajah kusut dan mata sembab. Pakaiannya sederhana, terlihat datang dari jauh, di tangannya sebuah ponsel dengan layar retak. “Permisi, Mas. Saya Bu Ratna,” suaranya bergetar. “Kemarin anak saya... anak saya ikut challenge yang Mas buat.” Jantungku berdegup karena challenge terakhir yang kubuat memang agak ekstrem. “Mengetes solidaritas keluarga dengan pura-pura pingsan di tempat umum” yang lumayan viral dengan tiga juta views dalam dua hari. “Dina, anak saya, dia ikut challenge itu di mall. Tapi...” Bu Ratna menahan isak, “Dia betulan pingsan, serangan panik. Sekarang trauma dan takut keluar rumah.” Kata-katanya menohok dada saat aku berusaha berkata, “Bu, saya nggak bermaksud...” tapi Bu Ratna menyodorkan ponselnya menampilkan video Dina, gadis SMA yang terkapar di lantai mall, bergetar ketakutan saat kerumunan mengerubunginya. Dia bilang, “Mama, aku cuma mau seperti Kak Adit yang keren. Aku mau terkenal juga.”

        Setelah Bu Ratna pergi, studio terasa sepi meskipun masih ramai kru, dan aku menatap layar komputer yang menunjukkan dashboard analytics dengan grafik naik terus, subscriber bertambah, income meningkat, tapi kenapa dadaku sesak? “Mas, script konten besok sudah siap,” kata Nisa, “Prank order ojol dengan alamat palsu 24 jam non-stop.” Alamat palsu berarti driver ojol bakal keliling sia-sia, buang bensin, buang waktu, kehilangan rejeki, demi konten, demi views, dan demi apa sebenarnya? Malam itu, aku membuka kembali Al-Qur’an yang sudah lama menganggur di rak dengan jari-jari gemetar membuka surat Al-Hujurat ayat 11. “...janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain...” Mata terpaku pada terjemahannya karena selama ini, tanpa sadar, aku merendahkan orang lain demi hiburan. Membuat mereka jadi bahan tertawaan, mengeksploitasi kebaikan hati driver ojol, pedagang kecil, bahkan anak-anak seperti Dina.

        HP berdering dengan notifikasi YouTube bahwa video kemarin sudah mencapai lima juta views dan comment section penuh tawa dan pujian. “Keren bang!” “Bikin lagi dong!” “Ditunggu konten selanjutnya!” Tapi di antara ribuan comment positif, ada yang membuatku terdiam,“Bang, papa saya driver ojol. Kemarin dia nangis gara-gara dipranknya youtuber terkenal. Katanya rezeki dia hilang sia-sia. Papa saya diabetes, harus minum obat mahal. Tolong bang, konten yang nggak ngerugiin orang kecil...” Air mata menetes tanpa permisi karena aku ingat masa kecil yang sebenarnya, bukan kemewahan apartemen ini. Aku lahir di kampung kecil di Cirebon dengan Mama yang kerja keras jadi buruh pabrik dan Papa yang jadi supir angkot dari subuh sampai maghrib, mereka rela berkorban supaya aku bisa kuliah di Jakarta, berharap hidupku lebih baik. Tapi aku malu mengaku asal-usulku, di konten selalu bilang keluarga “menengah ke atas,” padahal aku lupa bahwa dulu kami juga pernah jadi korban prank anak-anak kaya yang ngerjain tukang ojek kampung. Kapan aku lupa asal-usulku? Kapan aku mulai menganggap penderitaan orang lain sebagai bahan hiburan?

        Esoknya, aku mengumpulkan seluruh tim untuk mengumumkan, “Kita pause semua konten prank, mulai sekarang kita bikin konten yang berfaedah.” “Lho, Mas,” sahut Aldi, video editor, “Views prank kan tinggi. Follower juga naik terus.” “Memang. Tapi aku nggak mau sukses dengan cara menginjak orang lain,” jawabku saat Nisa menatap bingung dan bertanya tentang nasib kontrak endorse dan income. “Kita coba strategi baru. Konten yang mengangkat, bukan merendahkan.” Tidak mudah karena video pertama dengan konsep baru, yaitu membantu pedagang kecil promote dagangannya, hanya dapat seratus ribu views, jauh dari biasanya, beberapa subscriber mulai protes dengan komentar “Kok jadi membosankan?” dan “Kemana prank lucu-lucunya?” Income turun drastis, kontrak endorse banyak yang dibatalkan brand, tim mulai khawatir, dan Nisa menyarankan, “Mas, mungkin kita bisa kombinasi? Prank yang soft gitu?” tapi aku tetap konsisten menolak.

        Bulan kedua lebih berat dengan subscriber yang mulai turun, comment section dipenuhi kritik, dan akun gosip mulai menulis, “Content creator terkenal kehilangan pamor.” Malam itu, aku sujud lama di mushola sambil berdoa, “Ya Allah, jika jalan yang kupilih ini benar, berikanlah kemudahan. Jika salah, tunjukkanlah jalan yang lurus.” Minggu ketiga, sesuatu berubah ketika video tentang membantu Pak Salam, penjual bakso keliling yang lumpuh sebelah kaki, suddenly viral, bukan karena sensasi tapi karena banyak orang tersentuh dan ikut membantu hingga warung bakso Pak Salam yang biasanya sepi tiba-tiba ramai pembeli. Comment section berubah total dengan komentar “Makasih bang, konten begini yang bikin adem hati,” “Akhirnya ada content creator yang nggak cuma mikirin views,” dan “Barakallahu fiik, semoga makin istiqomah.” Yang paling membuatku terharu adalah comment dari akun @dinasari_17: “Bang Adit, saya Dina yang dulu trauma gara-gara challenge. Alhamdulillah sekarang sudah baikan. Terima kasih sudah berubah. Konten sekarang jadi inspirasi buat saya ikut bantu orang lain. Semoga berkah selalu.” Air mata lagi-lagi jatuh, tapi kali ini air mata bahagia.

        Subscriber memang turun dari dua juta jadi satu koma lima juta, tapi engagement naik karena yang tersisa adalah audience yang benar-benar appreciate konten positif, income juga mulai stabil dari brand-brand yang sejalan dengan value baru, dan yang terpenting aku bisa tidur nyenyak tanpa lagi dihantu rasa bersalah. Tiga bulan kemudian, aku mendapat undangan dari kampus untuk alumni meeting dengan tema “Digital Ethics and Social Responsibility” dan di sana bertemu Pak Hasan, dosen Komunikasi yang dulu pernah menegurku karena tugas yang asal-asalan. “Aditya, bagus perkembanganmu sekarang. Tapi ingat, influence adalah amanah,” katanya. “Setiap konten yang kamu buat, ada yang meniru. Ada yang terpengaruh. Gunakan dengan bijak.” Setelah acara, aku berjalan-jalan ke kantin kampus dan melihat seorang mahasiswa yang sedang menangis sambil menatap laptopnya, kudekati dan bertanya, “Ada apa, Dik?” “Kak, saya content creator pemula. Tadi upload video prank, tapi malah kena hate comment. Katanya saya jahat, nggak punya empati,” jawabnya sambil terisak. “Padahal saya cuma mau seperti content creator terkenal lainnya.” Nama di akun YouTubenya: Budi Pratama, subscriber: 1.200, video terakhir: “Prank Driver Ojol dengan Pesanan Palsu.” Aku terdiam karena inilah yang namanya karma, aku melihat diriku di cermin masa lalu dan berkata, “Dik, boleh kakak kasih saran?”

        Setahun kemudian, channel YouTube-ku masuk nominasi “Digital Creator Awards” kategori “Social Impact,” bukan karena views tertinggi tapi karena dampak positif yang terukur, dan saat menerima piala, aku teringat Bu Ratna dan Dina, papa driver ojol yang diabetes, Pak Salam yang sekarang punya warung tetap berkat bantuan subscriber. “Terima kasih untuk penghargaan ini,” kataku di podium. “Tapi yang terpenting bukan piala, melainkan proses hijrah. Hijrah dari mindset yang salah kepada yang benar. Dari mengeksploitasi ke mengangkat sesama.” Aku menatap kamera sambil berkata, “Buat yang nonton, remember: influence is responsibility. Gunakan platform kalian untuk kebaikan. Karena setiap konten yang kita buat, akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.” Setelah acara, aku membuka Instagram dan melihat DM dari akun @budipratamaofficial: “Assalamualaikum Bang Adit. Ini Budi yang dulu nangis di kantin kampus. Alhamdulillah sekarang channel saya sudah 50K subscriber dengan konten edukasi. Terima kasih sudah menginspirasi saya untuk hijrah dari konten yang merugikan. Barakallahu fiik.” Di bawahnya, screenshot video terbarunya: “Mengajarkan Anak Jalanan Mengenal Teknologi” dengan 500K views dan comments penuh doa dan apresiasi. Aku tersenyum karena inilah yang namanya subscriber berkualitas, bukan sekadar angka, tapi jiwa yang tersentuh untuk berubah.

        Malam itu, sebelum tidur, aku membaca kembali ayat yang pernah membuatku menangis: “...janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain...” Kini ayat itu tidak lagi menohok melainkan menjadi pengingat lembut bahwa hijrah bukan destinasi, melainkan perjalanan memperbaiki diri satu konten pada satu waktu. Notification Instagram berdering lagi, tapi kali ini aku tidak buru-buru membukanya karena ada hal yang lebih penting, shalat isya berjamaah di mushola komplek, sebab sejatinya follower terbanyak yang harus kujaga adalah Allah, dan Dia tidak butuh subscribe, hanya ketulusan.

Komentar

Memuat komentar...