Sebait Ayat di Dalam Mimpi

Gambar sampul untuk Sebait Ayat di Dalam Mimpi

Sumber: cerpen

        Orang-orang bilang Desa Mlempem pernah disiram air dari langit yang salah. Hujan itu datang bukan dari awan, tapi dari mulut sumur tua yang sudah ditutup dengan nisan. Airnya asin, tapi bukan air laut. Lebih seperti ludah para arwah yang kecewa karena doa-doanya dikembalikan tanpa diterima. Dan sejak itu, kuburan-kuburan tumbuh di pekarangan rumah. Tidak semua orang mati dikubur di tanah. Beberapa hanya ditanam dalam doa yang tidak tuntas.

        Aku kembali ke Mlempem setelah sebelas tahun, dengan jenggot tipis dan tasbih digital yang suaranya bisa dimatikan. Orang-orang menyambutku dengan gumam yang tidak selesai. Mereka masih mengingat aku sebagai Pambudi si penjudi, anak perempuan yang diarak keluar madrasah karena membawa jimat di dompetnya—benda kecil dari kain mori, berisi rambut bayi, sebutir lada, dan tulisan Arab yang terbaca dari kanan ke kanan. Itu dulu. Sebelum aku berhijrah.

        Sekarang aku menghindari segala bentuk gelas yang tidak ada tutupnya. Aku hanya menyantap daging yang disembelih dengan bismillah yang sahih. Aku menghapus seluruh foto lamaku, termasuk yang mengenakan kebaya warna darah kering saat karnaval 1 Sura. Aku mengganti semua itu dengan ayat-ayat pendek yang kulafalkan seperti menyalakan korek dalam gelap:

        cepat, penuh harap, dan sedikit takut.

        Tapi desa ini masih seperti dulu. Masih ada suara kendang dari arah barat sawah saat malam Jumat Wage. Masih ada kerbau tua yang dipakaikan kain kafan saat panen datang terlambat. Masih ada Mbok Setret yang bisa tahu isi hatimu hanya dengan mencium sisa tapak kakimu di lantai tanah.

        Dan malam itu, sebelum azan yang keempat dikumandangkan, langit runtuh dalam bentuk gerimis kecil yang rasanya seperti air wudhu dari tangan mayit.

        Aku menyewa kamar kecil di ujung desa, persis di dekat kandang sapi milik Pak Mundakir—tetangga lama yang dulu gemar menanam cabe di makam keluarga. Dinding kamarku masih dipenuhi cap tangan dari lumpur. Kata pemiliknya, itu warisan dari santri-santri yang pernah bertapa di dalam. Ada yang bilang bekas tangan para mutaba’ah. Ada pula yang bilang bekas jin yang belum sempat hijrah.

        Di malam keempat, aku bermimpi melihat diriku sendiri sedang salat. Bukan hal aneh, tapi dalam mimpi itu aku sujud terlalu lama. Ketika bangkit, wajahku telah berubah. Mata kiriku menyala seperti bara dalam tungku, dan lidahku tidak mampu melafalkan tahiyat. Yang keluar hanya suara burung hantu—huk...huk...huk...—terus-menerus, seolah Allah sedang menolak sujudku.

        Aku terbangun dengan peluh dan darah dari hidung. Di sajadahku ada bercak hitam sebesar kepalan tangan. Bukan tinta, bukan arang. Lebih seperti bekas telapak yang terbakar. Aku membersihkannya, tapi noda itu kembali setiap malam. Sampai aku bertanya pada Pak Mundakir.

        Ia tak menjawab. Hanya mengajakku ke dapur, lalu menunjuk tungku tua di pojok.

        “Di situ dulu dibakar anak perempuan yang menolak pakai mukena. Katanya, Tuhan hanya peduli hati, bukan bahan pakaian.”

        “Terus?”

        “Lalu ia mati dalam tawa.”

        Minggu ketujuh. Aku makin rajin ke masjid. Tapi setiap kali kaki kanan kuangkat untuk melangkah masuk, ada desir angin dari arah mimbar, seperti napas panjang seseorang yang kecewa. Suatu malam, saat imam membaca ayat tentang orang-orang munafik, lampu masjid mati seketika. Gelap total. Aku terperangkap dalam suara-suara ganjil: seperti seseorang sedang memutar tasbih dari kerikil, atau suara bocah yang mengulang-ulang kalimat syahadat dengan lidah yang robek.

        Setelah lampu menyala, semua orang melihatku. Tapi aku yakin—sumpah demi lafaz “ar-Rahman”—aku tak tahu apa-apa.

        Sejak itu aku dilarang ikut taklim. Masjid menutup pintu padaku dengan kunci dari surah-surah pendek yang dicetak miring.

        Kata mereka, aku bukan pendosa. Tapi bukan pula yang taat. Aku semacam gumpalan di antara kabut, mengambang, tak bisa dimasukkan dalam saf.

        Akhirya aku tahu, tidak semua orang berhijrah menuju cahaya.

        Beberapa, seperti aku, justru berpindah dari bayangan ke bayangan yang lain.

        Hijrahku bukan dari maksiat ke taat, tapi dari dosa yang terang ke dosa yang berdoa.

        Aku mengganti mantra dengan zikir, mengganti sesajen dengan infak, mengganti dukun dengan ustaz di YouTube. Tapi tubuhku masih menyimpan doa-doa lama. Keringatku masih beraroma kemenyan. Sujudku masih membawa tanah dari masa lalu.

        Malam itu, untuk pertama kalinya, aku mengimami diriku sendiri.

        Sendiri, dalam kamar sempit berlumur bekas tangan.

        Saat aku mengucap salam ke kanan, kudengar suara kecil di telinga kiri:

        “Hijrahmu setengah. Jiwamu belum ikut pindah.”

        Aku menoleh.

        Di cermin, bayanganku sedang tersenyum—mengenakan kebaya warna darah kering. Yang dulu. Yang lama. Yang tak pernah benar-benar pergi.

        Malam yang keempat puluh, hujan turun lagi. Tapi kali ini tidak deras—hanya serupa napas, lembap, dan sabar. Airnya jatuh pelan-pelan, tak menghantam tanah, hanya menyentuh, seolah menjemput sesuatu yang telah waktunya pulang. Di langit, tak ada petir. Hanya retakan samar, seperti kulit tua yang mengelupas, menunggu diganti oleh wajah baru.

        Aku bersuci. Tapi air wudhu kali ini berwarna kemerahan. Seperti air dari mimpi lama, atau sisa darah dari dosa yang belum kering. Aku tetap salat. Kali ini tidak dalam kamar, tidak di masjid, tapi di tengah jalan tanah, di antara dua pohon waru yang dulu tempatku menyimpan jimat.

        Aku bersujud. Dan saat bangkit, bumi di bawahku telah berubah. Tidak ada rumah, tidak ada sapi, tidak ada suara. Hanya aku, selembar sajadah yang membusuk perlahan, dan langit yang kini benar-benar membuka.

        Azan kelima dikumandangkan. Tapi bukan dari menara.

        Ia datang dari arah yang tidak ada arah. Suaranya seperti air yang melafazkan Allah dari sela-sela akar.

        Lidahku kelu. Tapi mataku menangis, bukan karena sedih, tapi karena tahu:

        aku akhirnya dijemput, bukan dimaafkan.

        Pagi itu, tanah kampung masih lembap—seperti lidah yang menelan mimpi setelah terjaga. Aku duduk di tepi sawah yang dulu kuhindari, menatap kabut menebal seperti asap dupa yang tak pernah terbakar. Katanya, jelang azan keenam, langit akan membuka mulutnya. Aku menunggu, tangan mengepal tasbih digital yang nadanya kini tak bisa dimatikan lagi.

        Sebuah suara lembut datang tanpa alasan. Bukan azan, bukan bisik doa, tapi jeda di antara kedua itu—seperti hembusan sebelum lancarnya lafaz Allah. Suaranya menempel ke kulit, masuk ke pori yang kelupaan.

        Aku meraba bahu sendiri. Manusianya ada di sana—tapi bayanganku yang bicara. Ia menatapku dan berbisik:

        “Surat ini belum selesai kau baca.”

        Aku tahu apa maksudnya:

        hijrah itu bukan surat elektronik yang kau kirim lantas dibiarkan. Ia surat yang kau tuliskan baris demi baris, kadang sobek, kadang tercampur dengan tinta hitam jejak dosa. Dan aku masih menggenggam pena yang bergetar.

        Malam itu, langit benar-benar menetes. Tapi bukan hujan—melainkan serpihan kata-kata yang jatuh dari patahan awan. Mereka menyatu menjadi doa rontok, mengambang di udara. Aku membuka tanganku, mencoba menangkap satu baris pun.

        Tapi yang kuterima hanyalah setetes embun. Embun yang jatuh di ujung jari, dingin dan basah. Seolah Tuhan berkata dengan syahdu:

        “Jika ingin membaca doa yang benar, kau harus mau membaca diri yang kau takut cintai.”

        Aku terpaku. Tidak banyak yang bisa kulakukan saat itu—selain berdiri di tengah hamparan tanah bekas jejak tadi, merasa diriku seperti huruf ‘alif’ yang berdiri sendiri—tebengkalai, tapi penuh lambang.

        Aku berjalan pulang, melewati bangunan tua yang dulu digunakan untuk upacara pemacahan jampi. Pintu-pintunya terbuka setengah, memantulkan cahaya rembulan yang pucat. Saat aku menoleh, kulihat bayangan yang tak seharusnya: kedua tangan di cermin—tangan perempuan berjimat—itu milikku.

        Perlahan aku tersenyum setengah, seperti orang yang baru ingat akan sebuah doa yang tertinggal separo. Dalam hati, kutulis satu baris kecil:

        “Surat hijrah ini belum selesai. Tapi aku tahu—jiwaku sedang belajar menulis kembali.”

        Kemudian aku tutup cermin itu, menoleh ke langit yang tak lagi runtuh, tapi beku dalam senyap. Dan di sanalah, di antara sepinya malam dan retaknya awan, aku mendengar azan—kali ini hadir bukan untuk menjemputku, tapi untuk meneruskan ayat yang sudah kusebut setengah malam.

Komentar

Memuat komentar...