Seragam Sekolah di Indonesia: Jejak Sejarah yang Menyatukan
Seragam sekolah bukan hanya perihal pakaian yang dipakai oleh murid Indonesia. Dibalik warna-warna yang kita kenal, seperti merah putih untuk murid SD, putih biru untuk murid SMP, dan putih abu untuk murid SMA, tersimpan jejak sejarah yang mencerminkan perkembangan pendidikan dan semangat kesetaraan di negeri ini.
Awal mula penggunaan seragam sekolah di Indonesia tidak lepas dari masa penjajahan. Pada era penjajahan Belanda, pendidikan hanya dinikmati oleh kalangan tertentu, terutama kaum bangsawan dan pejabat. Pada awalnya, murid tidak memakai seragam sekolah seperti sekarang, akan tetapi seragam yang digunakan adalah pakaian formal dan mencerminkan status sosial. Hal ini menyebabkan kesenjangan yang tampak jelas di lingkungan sekolah.

Dikutip dari buku Sejarah Pendidikan Islam: Memahami Kemajuan Peradaban Islam Klasik hingga Modern oleh Muhamad Tisna Nugraha, pasca Indonesia merdeka, ketika semangat dan jiwa nasionalisme bangsa masih tinggi, kondisi itu memberi pengaruh terhadap pendidikan di Indonesia dengan mulai diterapkannya penggunaan seragam sekolah dan penyusunan pendidikan nasional yang lebih merata. Barulah pada tahun 1982, pada era pemerintahan presiden Soeharto dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang dipimpin oleh Daoed Joesoef (1987–1983), penggunaan seragam sekolah secara nasional mulai diberlakukan. Aturan dan warna seragam sekolah dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 052/C/Kep/D.82 pada 17 Maret 1982. Seragam dimaksudkan sebagai simbol kesederhanaan, persamaan, dan kedisiplinan di lingkungan sekolah.
Idik Sulaeman yang saat itu menjabat sebagai Direktur Pembinaan Kesiswaan di Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah masa periode 1979–1983 merupakan pencetus gagasan corak warna seragam. Mengutip arsip dari laman CNN Indonesia, warna merah putih menandakan jiwa murid SD yang selalu ceria dan bersemangat dalam belajar. Warna putih biru tua menandakan kemandirian dan sikap percaya diri pada murid SMP. Sedangkan, warna putih abu bagi murid SMA merupakan peralihan dari hitam ke putih serta simbol ketenangan dan kedewasaan. Selain seragam harian, berkembang pula penggunaan seragam pramuka, batik sekolah, dan seragam olahraga.
Seragam sekolah di Indonesia umumnya menghargai kebebasan beragama, termasuk memberikan keleluasaan kepada murid Muslim untuk mengenakan pakaian yang sesuai dengan syariat Islam. Contohnya, mereka dapat memilih atasan berlengan panjang, rok panjang, dan jilbab sebagai bentuk ketaatan dalam menutup aurat, sebagaimana diajarkan dalam Islam. Namun, realitanya belum semua sekolah negeri sepenuhnya menerima pilihan ini dengan dalih menjaga nilai-nilai nasionalisme dan kesatuan bangsa. Ironisnya, beberapa murid perempuan bahkan menghadapi tekanan sosial dan bentuk diskriminasi ketika memutuskan untuk tidak mengenakan jilbab di lingkungan sekolah.
Menurut sejarawan, JJ Rizal, tren penggunaan jilbab mulai meningkat pada era 1980-an, seiring dengan bangkitnya gerakan dakwah dan semangat kebangkitan Islam di kalangan mahasiswa. Langkah konkret pemerintah dalam mendukung pemenuhan hak beragama bagi murid Muslim terlihat dari diterbitkannya Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2005, yang mengatur tata cara berpakaian bagi murid Muslim di madrasah, termasuk pemberian izin memakai jilbab sebagai bagian dari identitas keislaman. Lebih lanjut, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 45 Tahun 2014 juga memberikan ruang bagi sekolah untuk menyesuaikan seragam dengan kearifan lokal dan keberagaman budaya. Peraturan ini menegaskan bahwa pakaian seragam tidak boleh bertentangan dengan norma agama, kesusilaan, dan kesopanan yang selaras dengan prinsip-prinsip Islam dalam menjaga martabat dan kehormatan diri melalui cara berpakaian yang santun.
Dengan demikian, penting bagi seluruh elemen pendidikan untuk menghormati hak setiap murid dalam menjalankan keyakinan agamanya, serta membina suasana toleransi dan saling menghargai, sebagai wujud implementasi nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi keadilan, kebebasan beragama, dan penghormatan terhadap perbedaan. Semua itu bertujuan untuk memperkuat identitas dan rasa kebersamaan antarmurid. Meski sederhana, seragam sekolah telah menjadi bagian penting dari kehidupan murid di Indonesia. Ia menyatukan mereka dalam semangat belajar, tanpa melihat latar belakang ekonomi atau status sosial.
Referensi:
Riamitasari. (2024). “Sejarah Seragam Sekolah di Indonesia,” https://www.rri.co.id/iptek/635547/sejarah-seragam-sekolah-di-indonesia. Diakses pada 25 Juli 2025.
Widyasmoro, Tjahjo. (2023). “Inilah Sejarah Seragam Sekolah di Indonesia, Setiap Warna Ternyata Ada Artinya,” https://intisari.grid.id/read/033829373/inilah-sejarah-seragam-sekolah-di-indonesia-setiap-warna-ternyata-ada-artinya. Diakses pada 25 Juli 2025.
Komentar